Jumat, 26 Oktober 2018

MAKALAH RENAISANS EROPA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu disebut Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa mengalami zaman kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang dengan gereja. Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat Eropa dan sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan klasik.
Dari proses belajar itulah memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk memprotes gereja. Aliran Marthin Luther ini akhirnya memunculkan aliran baru yaitu Kristen Protestan. Renaisans adalah kunci untuk melangkah dalam zaman modern ini, maka dalam makalah ini kami selaku sebagai pemateri berusaha menyampaikan semaksimal mungkin tetang Renaisans.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana keadaan Eropa sebelum Renaisans?
2.      Bagaimana zaman Renaisans bisa ada?
3.      Capaian kemajuan apa yang ada pada zaman Renaisans
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui keadaan Eropa sebelum Renaisans.
2.      Mengetahui proses zaman Renaisans bisa terjadi.
3.      Mengeahui capaian kemajuan  yang ada pada zaman Renaisans.
















BAB III
Pembahasan

A.    Keadaan Sebelum Zaman Renaisans
Runtuhnya imperium Romawi Barat, yang pernah menguasai bagian Barat dan Selatan Eropa, menimbulkan beberapa akibat yang langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan Eropa di masa feodal. Beberapa akibat itu ialah:
1.      Beberapa suku jermania, suku Goth dan suku Vandal berusaha mencari tempat kediaman baru untuk menetap dan kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan.
2.      Kebudayaan dan peradaban Romawi punah sama sekali, kecuali di wilayah kerajaan Romawi Timur. Hal ini mengakibatkan kemunduran bagi Eropa umumnya.
3.      Hubungan perdagangan dengan Timur Tengah dan Asia lainnya, yang telah berlangsung berabad-abad, hampir putus asa sama sekali selama 7 abad. Hal ini berakibat kemunduran di bidang perekonomian.
4.       Sejak Roma menjadi pusat agama Katolik, kepala Gereja ada dibawah kaisar, setelah kaisar tiada lagi, kepala Gereja di Roma berdaulat penuh dan sejak itu menjadi Sri Paus atau Bapak Suci, yang menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik Roma. Sebagai kepala Gereja sejak itu Sri Pauslah yang menobatkan raja-raja. Dengan demikian dua hal dapat di capai oleh Sri Paus, yaitu:
a.       Meluaskan agama Katolik Roma dengan bantuan para raja-raja.
b.      Menempatkan dirinya di atas para raja-raja selaku kepala Gereja.





Feodalisme adalah suatu keadaan tata-masyarakat yang mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
1.      golongan bangsawan yang sangat berkuasa
2.      perikehidupan yang agraris dengan kaum petani Tak bebas(tidak mempunyai tanah sendiri) yang sangat besar jumlahnya
3.      tidak umum di pergunakannya mata-mata dalam perdagangan
4.      kedudukan raja-raja lemah

5.       sering sekali terjadi peperangan-peperangan antara sesama bangsawan
Feodalisme juga disebut sistem-pinjam. Para raja, yang di anggap menjadi pemilik tunggal tanah seluruh kerajaan, meminjamkan bidang-bidang tanah yang luas kepada mereka yang dianggap berjasa terhadap raja, pinjaman ini bersifat turun temurun dan pinjaman pertama ini disebut raja vazal, yang tergolong bangsawan tinggi. Para vazal atas namanya sendiri meminjamkan bagian dari tanahnya kepada bawahannya langsung dan seterusnya. Dengan demikian maka terbentuklah golongan bangsawan atau kaum feodal, Keadaan-keadaan khas lainnya dalam masyarakat feodal Eropa ialah:
a.       para vazal menjadi lebih berkuasa daripada raja
b.      kaum gereja menduduki peranan yang sangat penting
c.       timbulnya semacam kasta prajurit atau knight
(Sutrisno, 1976: 164-171)




B.     Zaman Renaisans
Zaman Renaisans (abad 14-16) adalah satu abad keemasan (Golden Age) dalam sejarah peradaban barat. Zaman ini merupakan fase transisi yang menjebatani zaman kegelapan (Dark Ages) dengan zaman pencerahan (Enlightenment Age). Dengan lahirnya Renaisans, peradaban barat mulai bersinar. Tanpa Renaisans, Eropa mungkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan begitu cepat. Secara etimologis (bahasa Prancis) Renaisans, berasal dari kata Re, (kembali) dan Neitre (lahir) berarti “kelahiran kembali.” Dalam konteks sejarah barat, istilah ini mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali minat yang sangat besar dan mendalam terhadap kekeyaan warisan Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspeknya. Manusia Renaisans begitu bersemangat mempelajari karya-karya pemikir agung Yunani Kuno seperti Plato, Plotinus dan Aristoteles. (Hasyim Asy’ari, 2018:  2-4)
1.      Perdagangan Eropa dan Jalan Menuju Kekayaan
Bangsa penjelajah Viking mulai memasuki Eropa pada 1.000 M. Mereka itu berasal dari daerah Skandiavia Utara. Sebagian dari mereka adalah orang-orang barbar, penjarah, perampok dan pembunuh. Akan tetapi, sebagian lagi adalah pedagang-pedagang yang giat. Mereka berperan besar dalam membangkitkan perdagangan di Eropa.
Para pedagang Italia juga begitu, mereka berdagang di seluruh Eropa dan juga ke Konstantinopel yang sangat makmur. Italia berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan karena letaknya di tengah-tengah antara Eropa dan kota-kota di Timur. Dari perdagangan itu, di Italia muncul kota-kota baru. Venesia, Pisa dan Genoa yang berada di tepi jalur perdagangan laut mulai merasakan kemakmuran. Perdagangan dan kemakmuran Eropa mengalami kebangkitan yang lebih hebat lagi setelah terjadinya salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia yakni Perang Salib. (Eko Laksono, 2010: 142)


2.      Penemuan Warisan Ilmu
Pada 1333,seorang Italia bernama Petrarch menemukan harta karun yang sudah berabad-abad terpendam dan dianggap hilang. Harta itu adalah rahasia kemegahan zaman klasik Yunani dan Romawi. Karya pertama yang ia temukan adalah milik Cicero, sang politisi dan orator besar Romawi. Lalu karya-karya Homer dan Virgil. Mahakarya dari zaman penuh kemegahan itu membuat Petrarch mulai berpikir bahwa manusia tidak boleh lagi memasrahkan dirinya pada nasib, tidak boleh lagi terbelenggu dalam kegelapan dan keterbelakangan. Manusia harus berusaha dengan aktif mencari jawaban-jawaban atas eksistensinya di dunia dan menemukan keagungannya.
Pengaruh Petrarch kemudian membuat ilmu-ilmu klasik mulai kembali ramai dicari. Ini adalah awal mula dari peristiwa besar yang akan segera terjadi di Italia yaitu Renaisans. (Eko Laksono, 2010: 153)
3.      Byzantium Runtuh
Pada 1453 setelah berdiri selama ribuan tahun, peradaban Byzantium akhirnya juga runtuh. Setelah digempur pasukan Ottoman, Turki. Menjelang kejatuhannya, orang-orang Byzantium melarikan diri ke Italia. Mereka terdiri dari para bangsawan, pedagang, pengrajin, juga para tentara. Di antara mereka juga terdapat ribuan orang cerdas, kaum intelektual dan sarjana yang mencari tempat aman dan bisa menerima mereka dangan baik. Tempat itu adalah kota-kota di Italia, seperti Venesia dan Florens. (Eko Laksono, 2010: 154)
4.      Renaisans, Italia Bangkit Menjadi Pusat Dunia
Sejak berkembangnya perdagangan pada masa Perang Salib, kota-kota Italia, seperti Venesia, Pisa, Genoa dan Florence telah menjadi pusat-pusat perdagangan yang makmur. Akan tetapi, ketika peradaban hebat sebelumnya seperti Bagdad, Konstantinopel dan Andalusia Spanyol telah mundur, kota-kota di Eropa, khusunya Italia tidak lagi punya saingan. Venesia, Genoa dan Florence kemudian menjadi pusat dunia seta pusat perdagangan dan perkembangan ilmu. (Eko Laksono, 2010: 157)
Majunya kemakmuran dan perdagangan membuat mereka semakin butuh pendidikan. Supaya nanti bisa berdagang dan berusaha, anak-anak tentu harus belajar membaca dan berhitung. Sekolah-sekolah pun bermunculan. Sejak kontak dengan Byzantium, para tokoh Italia sudah berlomba-lomba untuk mempelajari peradaban klasik Yunani dan Romawi kuno. Buku-buku didatangkan dari Timur dengan biaya yang sangat besar. Para bangsawan dan pedagang-pedagang kaya saling berlomba untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya adalah Keluarga Medici.
Keluarga Medici tinggal di Florence Italia, salah satu kota terkaya di Eropa. Florence mejadi sangat kaya karena memilki industri tekstil yang besar dan terus berkembang. Kemajuan perdagangan dan industri di kota itu juga membuat Florence kemudian menjadi kota pusat keuangan dan perbankan.
Kota utama dari Renaisans yakni Florence (Provinsi dari wilayah Tuscan) yang merupakan kota yang terkemuk. Para seniman dan penulis Florentine membuat negara kota mereka sebagai pusat Renaisans masa awal. Pada masa ini mereka berhasil mencapai prestasi yang gemilang dalam berbagai bidang, seperti bidang seni, filsafat, literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain. Renaisans juga telah dapat membangkitkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme.
Keluarga Medici menjadi keluarga yang paling berpengaruh pada masa Renaisans Italia. Keluarga itu mempunyai kekayaan yang besar hasil dari usaha perbankannya yang sangat sukses. Dua orang pemimpinnya yang paling terkenal adalah Casimo de Medici dan cucunya, Lorenzo de Medici.
a.       Casimo de Medici (1389-1464) adalah tokoh yang sangat haus ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya, ia dengan sekuat tenaga mendirikan dan memperbesar beberapa perpustakaan di kota-kota Italia. Saat itu mesin cetak Gutenberg belum ditemukan dan sebuah buku saja harganya sangat mahal. Untuk mendirikan sebuah perpustakaan, biaya yang diperlukan tidak main-main besarnya. Belum lagi biaya yang ia keluarkan untuk membayar para penerjemah dan tukang kopi buku yang jumlahnya mencapai puluhan. Akan tetapi, Cosimo adalah seorang bangsawan yang juga tidak main-main perhatiannya pada ilmu. Pada tahun 1462, ia juga mendirikan Akademi Florentine, tempat para sarjana dan kaum intelektual berkumpul dan membahas karya-karya besar pemikir Yunani.
b.      Lorenzo de Medici (1449-1492) membangun perpustakaan besar Medici. Seperti para bangsawan lainnya saat itu, ia bersaing untuk mendapatkan buku-buku terbaik dari Timur dan mengopinya untuk kemudian disebarkan ke seluruh Eropa. Upaya-upaya Lorenzo dalam menyebarkan ilmu juga mendorong berkembangnya pemikiran rasionalis humanis di seluruh Eropa.
(Eko Laksono, 2010: 158)
5.      Penemuan Mesin Cetak Menciptakan Revolusi Kecerdasan Eropa
Sekitar tahun 1400-an, di Jerman hidup seorang pengusaha miskin  yaitu Johan Gutenberg. Selama hidupnya, ia bercita-cita membuat mesin yang bisa mencetak buku dalam jumlah yang banyak dan murah. Saat itu, buku bisa dibuat dengan dua cara, yakni ditulis tangan atau dicetak melalui ukiran. Membuat buku dengan tulis tangan atau cetak ukiran kayu jelas sangat lama dan tidak efisien.  (Eko Laksono, 2010: 159)


Setelah mencoba selama puluhan tahun, akhirnya pada tahun 1450 M Gutenberg menemukan cara untuk mencetak buku dengan cepat dan banyak. Ia membuat mesin pencetak baru dari balok-balok metal yang huruf-hurufnya bisa dipindah-pindahkan dengan mudah. Tanpa memakan waktu lama, penemuan Gutenberg itu tersebar dengan cepat ke mana-mana. Buku mulai diproduksi besar-besaran di seluruh Eropa. Percetakan-percetakan baru tumbhuh dengan sangat cepat di kota-kota besar seperti Venesia, Florence, London, Paris Cologne dan lain-lain. Karena buku menjadi sangat murah, biaya untuk sekolah-sekolah maupun tempat-tempat pendidikan lainnya menjadi lebih terjangkau, minimal bagi kalangan menengah Eropa. Jumlah orang yang bersekolah pun segera meningkat dengan cepat. Universitas-universitas semakin berkembang. Julmlah perpustakaan yang dibangun bertambah banyak. Berkat Gutenberg, saat itu Eropa mulai berubah menjadi peradaban yang cerdas. (Eko Laksono, 2010: 160)
C.     Pencapaian Kemajuan pada Zaman Renaisans
1.      Seni Renaisans
Arti penting Renaisans disampaikan melalui seninya, khususnya arsitektur, seni pahat, dan snei lukis. Dari contoh-contoh seni tersebut kemudian mencerminkan suatu gaya yang menekankan proporsi, keseimbangan serta harmoni, selain itu juga mencerminkan nilai-nilai humanisme Renaisans : suatu gerak kembali ke model-model klasik di bidang arsitektur, ke pembuatan tokoh telanjang dan ke visi heroik manusia. Di bidang seni, seperti di bidang filsafat, orang-orang Florentin memainkan peran yang menonjol. Penyumbang pertama yang utama bagi seni lukis Renaisans ialah pelukis Florentin Giotto. Selain itu para seniman besar termasuk Leonardo da Vinci, Michaelangelo Bounarroti dan Raphael Santi. Semua mereka terkait erat dengan Florence. Leonardo adalah seorang ilmuwan dan ahli mesin, dan juga seorang seniman besar. Diantara yang cukup penting yakni The Last Supper (Perjamuan terakhir) dan La Giconda atau Mona Lisa. Untuk Michaelangelo Bounarroti ciptaannya tentang artistik yang berasal dari penguasaan anatomi dan seni lukis. Modelnya dalam melukis adalah patung. Ia seorang pemahat yang pandai. Diantara patung yang terbesar adalah Daud, Musa, dan Budak yang Sekarat. Selain itu ia juga merupakan arsitek. (Marvin Perry. 2012, 308-309)
2.      Ilmu Astronomi
Copernicus (1473-1543) adalah ilmuwan Polandia yang belajar di Italia. Ia bisa membuktikan bahwa bukan matahari yang mengelilingi Bumi, justru Bumilah bersama planet-planet lain yang berputar-putar mengelilingi Matahari. Corpenicus mengamati pergerakan benda-benda langit, bulan, bintang dan matahari. Ini dilakukan dengan mata telanjang karena teleskop belum ditemukan. Dengan perhitungan matematis yang teliti, pola pergerakan planet dan bintang yang akurat bisa dikira-kira, termasuk bahwa bumi pada dasarnya mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Teori Copernicus belum sempurna, tetapi cara pandangnya terhadap alam semesta menjadi salah satu titik awal yang sangat penting bagi ilmu astronomi.
Setelah itu muncul Galileo Galilei (1564-1642). Teleskop juga sudah ditemukan. Dengan pengamatan yang lebih teliti yang dibantu dengan alat baru, teori Copernicus makin diperkuat oleh Galileo. Formula-formula matematik yang digunakan untuk mendukungnya juga semakin kukuh. Ide bahwa matahari adalah pusat alam semesta semakin populer di masyrakat Eropa. (Eko Laksono, 2010: 164)
3.      Reformasi Gereja Zaman Pertengahan dalam Krisis
Renaisans telah merevitalisasi kehidupan intelektual Eropa dan dalam perjalanannya membuang keasyikan abad pertengahan dengan teologi. Demikian pula reformasi menandai permulaan suatu cara pandang religius yang baru. Akan tetapi reformasi protestan, tidak berasal di dalam lingkaran elit sarjana humanistik. Lebih tepatnya, ia dicetuskan oleh Martin Luther, seorang biarawan Jerman yang tak kenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa menceraiberaikan tanpa terpulihkan kesatuan religius dunia kristen. Dimulai pada 1517 Reformasi mendominasi sejarah Eropa selama sebagian besar pada abad keenam belas. Gereja Katolik Roma berpusat di Roma adalah suatu lembaga Eropa yang melampaui batas-batas nasional. Geografis, teknis dan bahasa. Selama beradab-abad, ia telah memperluas pengaruhnya ke dalam setiap aspek kemasyarakatan dan kebudayaan Eropa. Hasilnya, kekayaan sangat besar dan kekuasaannya tampak lebih menonjol daripada komitmennya untuk mencari kesucian di dunia ini dan keselamatan untuk masa yang akan datang. Dibebani oleh kekayaan, candu kepada kekuasaan internasioan dan sangat melindungi kepentingan-kepentingan sendiri, kaum pendeta, mulai dari Paus hingga seterusnya, menjadi pusat badai kritik, dimulai sejak akhir Zaman Pertengahan.
Pada abad keempat belas, ketika raja meningkatkan kekuasaan serta kemajuan pusat perkotaan, rakyat mulai mempertanyakan otoritas gereja internasional dan kaum pendetanya. Ide sentral dunia Kristen pada abad pertengahan-suatu persemakmuran Kristen yang dipimpin oleh kepausan semakin tidak dihargai. Para teoritisi sedang mengargumenkan bahwa gereja hanyalah suatu badan spiritual dan oleh karena itu kekuasaannya tidak boleh diperluas kepada ranah politik. Mereka mengatakan bahwa Paus tidak mempunyai otoritas terhadap raja, sehingga negara tidak membutuhkan bimbingan dari kepausan, dan bahwa kaum pendeta tidak berada di atas hukum sekuler. Selama akhir abad keempat belas, dunia Kristen menyaksikan serangan-serangan yang pernah dilancarkan terhadap gereja. Kebobrokan gereja seperti penjualan seperti surat pengampunan dosa (praktik pengangkatan kerabat untuk menjadid pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan hawa nafsu seks kaum pendeta, hal tersebut bukanlah hal yang baru.

BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu disebut Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa mengalami zaman kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang dengan gereja. Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat Eropa dan sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan klasik. Penemuan mesin cetak membuat ilmu-ilmu semakin tersebar luas karena buku menjadi lebih murah dan mudah didapat
Dari proses belajar itulah memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk memprotes gereja. Maka dari situlah otoritas gereja tidak terlalu mengekang lagi seperti zaman kegelapan. Eropa kini menjadi peradaban yang rasionalis dan mempunyai ilmu pengetahuan yang maju.

MAKALAH DINASTI ILKHAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap bangsa pastilah mempunyai sejarahnya masing-masing, beserta hasil peradabannya kala itu. Termasuk peradapan Bangsa Mongol yang mempunyai banyak cabang dinasti diantaranya, Dinasti Chaghtai (1227-1359      M), Dinasti Golden Horde (1256-1391 M), dan yang terakhir Dinasti Ilkhan (1256-1335 M). Dinasti Ilkhan merupakan salah satu cabang rumpung dari bangsa Mongol, yang berada di daratan Asia Timur. Pada abad ke-7 M Sentral Asia (Asia Tengah) dihuni oleh suku-suku yang liar lagi biadab dari pegunungan Altai. Di sebelah Barat, mereka digolongkan sebagai orang-orang Turki. Sedangkan di sebelah Timur digolongan sebagai orang-orang Mongol. Orang-orang Turki setelah berpindah dan memasuki daerah kerajaan Islam di bagian Barat dan memeluk agama Islam, menjadi suku yang berbudaya. Pada tahun1206 M, Suatu suku kecil dari bangsa Mongol berkumpul di Laut Baikal.
Tahun 1207-1215 M merupakan pergerakan Jengis Khan dalam melakukan perluasan wilayah. Kejeniusan Jengis Khan dan keberanian orang-orang yang loyal padanya menjadikan dominasi kekuasaannya meluas secara cepat keseluru Mongolia dan daerah-daerah tetangganya, sehingga daerah kekuasaannya terlihat diperbatasan Iran, Khawarizn di Asia Tengah, yang luasnya meliputi Persia hingga Transoxiana. Karena kekagumannya akan kekuatan militer (khususnya senjata) dan majunya kebudayaan bangsa Iran yang pada saat itu berdirinya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, maka Jengis Khan mengirim pada duta dalam berdagang. Disinilah awal sejarah hubungan bangsa Mongol dengan umat Islam hingga berakhir pada kehancuran kerajaan-kerajaan Islam. Pasukan Mongol dibawa pimpinan Jengis Khan dan Hulagu Khan, meluluh lantahkan Transoxania dan Khurasan (1219-1231) kemudian menumbangkan kekuasaan Saljuk Rum (1235-1236 M) Bahgdad hancur lebur dan Khalifah Abbasiyah dibunuh (1258 M). Pasukan kencana kumpulan dari beberapa suku Mongol menyapu wilayah Kota-kota, budaya, perdagangan, ilmu agama dan filsafat selama setenga abad di bantai dan di hancurkan dengan tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnnya. Bangsa mongol berhasil menguasai Baghdad pada tahun 1258 M yang menandakan kehancuran bagi peradaban Islam.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Ilkhan ?
2.      Bagaimana perkembangan pemerintahan Dinasti Ilkhan ?
3.      Bagaimana periode disintegrasi dan keruntuhan Dinasti Ilkhan ?
C.    TUJUAN
1.      Memahami sejarah berdirinya Dinasti Ilkhan.
2.      Memahami perkembangan pemerintahan Dinasti Ilkhan.
3.      Memahami  periode disintegrasi dan keruntuhan Dinasti Ilkhan.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ILKHAN
Hulagu Khan dikenal dengan sebutan Hülegü, Hulegu and Halaku. adalah Khan pertama dari dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia, Kehancuran kota Bgahdad yang merupakan pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam telah dihancurkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M. melakukan peperangan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk yang ada di daerah Perisa. Ada beberapa faktor yang menjadikan Hulagu Khan berkeinginan menguasai wilayah Islam diantaranya : Ibu Hulagu, istri dan sahabat dekatnya, Kitbuq aadalah seorang Kristen fanatik yang memendam kebencian mendalam terhadap orang muslim, dan para penasehatnya banyak yang berasal dari Persia yang memang berharap dapat membalas dendam atas kekalahan mereka satu abad sebelumnya ketika Persia ditaklukan oleh pasukan muslim pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Keberhasilan ekspansi yang dilakukan oleh Hulagu Khan terutama kehancuran Baghdad tahun 1258 M, telah mendirikan suatu kerajaan Mongol dengan gelar Ilkhan. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun 1259, pada saat Hulagu Khan berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad. Ilkhan dalam bahasa Mongol adalah kepala suku, dalam makna khusus dikalangan Mongol juga disebut sebagai perwakilan dari pusat kekuasaan Khan Agung, yang memiliki wilaayah yang sangat luas. Ilkhan merupakan gelar yang diberikan kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi-prestasinya yang diperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi wilayah dan mengalahkan setiap musuh-musuhnya. Dinasti Ilkhan yang didirikan oleh Hulagu Khan memliki kekuasaan meliputi dari lembah sungai Amu Daria sampai Syam dan dari Kawkasus sampai Hidukush. Kehadiran dinasti Ilkhan yang menegakkan ajaran Islam sebagai agama resmi kenegaraan, merupakan terobosan baru bagi peradaban Islam di tangan bangsa Mongol.
 Baghdad  dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu Khan telah diperintah oleh Dinasti Ilkhan, Ummat Islam yang masi menetap di daerah Baghdad telah dipimpin oleh Hulagu Khan seorang raja yang beragama Syamanisme. Hulagu Khan sangat membenci Ummat Islam, kebencian itupu menjadi-jadi dikarenakan istrinya merupakan seorang Kristen yang mendorong untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Muslimin. Akan tetapi di akhir-akhir kehidupan Hulagu Khan telah mempercayakan pendidikan putra keduannya, Teguder kepada seorang pendidik Mualim. Hulagu khan Mneinggal pada tahun 663 H/1265 M. Kebencian Hulagu Khan terhadap Ummat Islam dikarenakan adanya dukungan dari Istrinya yang beragama kristen. 
Keberhasilan Hulagu Khan menguasai Persia dan Irak, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspansi di berbagai negara lain, Hulagu bergerak untuk memerangi Syiria dan daerah-daerah lain yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk. Hulagu sangat tertarik menguasai Mesir, akan tetapi pasukan Mamluk lebih kuat dan lebih cerdik.  Pada tahun 1260 M pasukan Mongol berhasil menduduki  Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz penguasa dinasti Mamluk menyerahkan diri. Permintaan tersebut ditolak utuzan bangsa Mongol telah dibunuh oleh penguasa Dinasti Mamluk, Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania menuju Galilie Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamluk yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybras di Ain Jalut. Pertempuran dasyat terjadi, pasukan Mamluk berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 September 1260 M.
Mamluk memiliki keuntungan pengetahuan tentang medan perang. Taktik yang dipakai oleh panglima Baibars adalah dengan memancing keluar pasukan berkuda Mongol yang terkenal hebat sekaligus kejam ke arah lembah sempit sehingga terjebak, kemudian pasukan kuda mereka melakukan serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di dekat lembah tersebut. Taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dihukum mati.
Keruntuhan kota Baghdad sampai ke Negara-negara Islam yang lain, rasa kesedihan menyelimuti mereka semua. Meskipun khalifa Abbasiyah sudah tidak lagi memiliki kekuasaan secara menyeluruh kepada Negara-negara tersebut tetapi ummat Islam masih tetap menjadi symbol bagi agama Islam. dia masih memiliki kedudukan maknawi yang kuat didalam jiwa seluruh ummat Islam.[1]
B.     PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN
Dinasti Ilkhan memerintah di wilayah yang memanjang dari Asia Kecil di barat dan India di timur dengan ibukota Tabriz. Di wilayah itu sekarang membentang Turki, Syiria, Irak, Iran, Uzbekistan, dan Afghanistan. Selama dinasti ini berdiri. Terdapat 16 raja yang pernah berkuasa[2]. Diantara raja-raja tersebut yang pertama adalah Hulagu Khan yang sekaligus pendiri dinasti ini. Hulagu adalah putra dari Tuli Khan, cucu Jenghis khan, seorang Syamanism. Masa kekuasaan dari Hulagu Khan cukup singkat, yaitu hanya selama kurang lebih tujuh tahun.
Semasa kepemimpinannya, kehidupan agama cukup toleran, meskipun diawal berdiri Dinasti Ilkhan diketahui bahwa Hulagu menghancurkan Kekhalifahan Abbasiyah dengan sangat keji. Akan tetapi meskipun kehidupan agama yang toleran, Islam dan perkembangannya sangat lambat dibanding perkembangan agama Budha dan Kristen di negeri-negri Ilkhan. Demi memperkuat posisinya terhadap kemungkinan dari serangan Berke Khan (Golden Horde) dan sekutunya Sultan Mamluk (Mesir), Hulagu menjalin hubungan dengan kaum Kristen. Ia menjalin persekutuan dnegan Kristen Timur dengan Raja Armenia serta pasukan Salib dari Konstatinopel. Persekutuan antara Hulagu dengan pihak Kristen ini dapat terjadi karena dari istrinya yang beragama Kristen. Selain itu menurut Hulagu, kaum Kristen sudah mampu membangun pertahanan mereka dari serangan luar dengan sangat baik. Masa kekuasaan Hulagu berakhir saat ia wafat pada 1265 atau tujuh tahun setelah ia meresmikan Ilkhan sebagai dinasti. Hulagu dimakamkan di Pulau Kaboudi yang terletak di Danau Urmia.[3]
Periode selanjutnya, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Abaga Khan, putra Hulagu. Ia adalah salah satu diantara penguasa Ilkhan yang berkuasa paling lama, yaitu selama 17 tahun, dimulai dari tahun 1265 M sampai 1281 M. Berbeda dari ayahnya yang memeluk Syamanism, Abaga adalah seorang Kristen Nestorian. Abaga menjalankan kekuasaannya dengan penuh semangat dan memperhatikan kondisi negara dengan cukup baik. Pada masa pemerintahannya Abaga menjalin kerjasama dengan kaum Kristen. Ia mengirimkan duta-duta ke beberapa pangeran di Eropa diantaranya, Louis dari Prancis, Charles di Sicilia, dan James Aragon, hal itu dilakukan dalam rangka meminta persekutuan untuk membantu melawan Muslim. Mirip dengan ayahnya, faktor yang menimbulkan kebencian Abaga pada muslim juga ikut dipengaruhi oleh istrinya, yang merupakan putri dari Kaisar Konstatinopel.
Masa pemerintahan Abaga ini lagi-lagi disibukkan dengan peperangan yang terjadi antar keluarga mongol, diantaranya peperangan dengan Berke khan atau dinasti Golden Horde dengan sudah berlangsung sejak masa Hulagu, peperangan dengan Dinasti Mamluk pada 679 H, dan perseteruan dengan Mongkay Khan di timur. Abaga Khan berusaha merebut negeri Syam akan tetapi berhasil digagalkan oleh Sutan Qalawun pada 680 H. Selanjutnya pada masa pemerintahannya Abaga memfokuskan diri pada penyerangan terhadap daerah-daerah di Mongol Utara dan Dinasti Mamluk. Abaga Khan meninggal pada 680 H, tahtanhyapun diwariskan kepada Tegudar, yakni saudaranya sendiri.[4]
Penguasa ketiga Dinasti Ilkhan adalah Ahmad Teguder yang memerintah pada 1282 M-1284 M. Ahmad Teguder dibesarkan sebagai seorang Kristen yang sudah dibabptis dengan nama Nicola atau Nicholas. Ketika ia mencapai dewasa, ia memleuk Islam sebagai akibat dari pergaulan dengan teman-temannya yang beragama Islam. Ahmad Teguder adalah raja Dinasti Ilkhan pertama yang memeluk Islam atas dasar hubungan dan didikan dari seorang Muslim sehingga berkeinginan membela dan melindungi umat Islam.
Ahmad Teguder berkeinginan mengislamkan seluruh Mongol, akan tetapi banyak diantara masyarakat yang enggan masuk ke agama Islam. Ahmad Teguder mengupayakan berbagai cara salah satunya dengan upaya memberikan hadiah, anugerah, pangkat, dan kehormatan bagi sejumlah orang Mongol yang masuk Islam. Ia juga mengirim surat kepada Sultan Mamluk di Mesir, dengan isi berupa pernyataan bahwa ia telah memeluk Islam dan mengharapkan hubungan perdamaian dengan Dinasti Mamalik di Mesir. Akan tetapi usaha persahabatan yang coba dijalin oleh Teguder tidak berlangsung lama, dikemudian muncul konspirasi hebat dari kalangan Mongol yang terkemuka untuk menurunkan Teguder dari tahtanya. Konspirasi yang dilakukan oleh keluarganya sendiri itu salah satunya didasari karena keislaman Teguder. Teguder dihabisi oleh Argun, yang kemudian naik tahta setelah Teguder wafat.
Raja keempat, Argun, memimpin Ilkhan sejak 1284 M hingga 1291 M. Ia adalah seorang penganut Kristen Nestorian militan, yang karena kefanatikannya itu, Arghun banyak melakukan tindakan refresif dengan mengusir dan membunuh orang-orang Islam. Di masa kepemimpinannya, ia banyak melakukan penindasan terhadap Umat Islam di negerinya dan memecat seluruh pejabat Muslim yang terkait dalam peradilan dan ekonomi. Arghu khan juga mengadakan persekutuan dengan pasukan Salib dan bangsa Armenia untuk melawan Dinasti Mamluk serta kerajaan Mongol yang telah memeluk Islam. Ia wafat pada 691 H dan tahtanya diwariskan kepada saudaranya, Gayghatu.
Gayghatu memerintah Ilkhan selama empat tahun pada 1291 M – 1295. Ia kemudian digantikan oleh Baydu yang memerintah dalam periode yang singkat pul, yakni kurang lebih selama satu tahun dan masih di tahun 1295 M. Dari masa Hulagu hingga Baydu, kecuali Ahmad Teguder, seluruh penguasa Dinasti Ilkhan adalah non-Muslim. Pada periodeini tidak ada perkembangan yang cukup berarti bagi masyarakat Muslim terutama yang menyangkut perkembangan Islam dan peradabannya.[5]
Ghazana Khan naik tahta pada tahun 1295 M. Ia merupakan pemimpin ketujuh Ilkhan. Pada awalnya Ghazan adalah seorang pemeluk Budha, sejak kecil ia sudah dekat dengan kakeknya, Abaga, yang beragama Budha. Ketika usianya 10 tahun Dia diangkat menjadi gubernur Khurasan pada masa pemerintahan ayahnya, Argun khan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir Nawruz, yang telah memerintah selama 39 tahun di beberapa provinsi di Persia. Amir Nawruz merupakan pembesar Mongol awal yang memeluk Islam secara diam-diam. Atas usaha Amir beserta salah seorang penasehat Ghazan yang bernama Shekh Sadr al-Din Inilah Ghazan Khan memeluk Islam.
Setelah pemimpin dinasti ini masuk Islam, masyarakat dari kalangan Bangsa Mongol dapat menerima dan masuk agama Islam. Hal ini juga didukung oleh faktor adanya asimilasi dan pergaulan dengan masyarakat Muslim dalam jangka waktu yang lama. Para penguasa pada masa Ghazan Khan ini mulai memperhatikan Islam dan kepentingan masyarakat Muslim. Selain itu Ghazan Khan juga menetapkan bahwa pemerintahannya menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan.[6]
Dalam catatan sejarah masa kepemimpinan Ghazan Khan adalah masa dimana Dinasti Ilkhan dan muslim mencapai punca kejayaannya. Ghazan Khan melakukan gebrakan dan pembaharuan pada banyak sektor pemerintahan dan masyarakat. Sehingga kemajuan dan sumbangsih terhadap Islam dapat dilihat pada beberapa aspek kejayaan dinasti ini. Sultan Ghazan dikenal sebagai Raja Mongol pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Ghazan menyebut dirinya sebagai Ruler by the grace of God [7]sehingga syari’at Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan digantikan dengan undang-undag baru yang berasaskan Islam. Reformasi lain yang ia lakukan ialah pengurangan pajak terutama bagi petani dan penyusutan jumlah pelacuran di seluruh negeri. Walaupun beberapa perubahan yang dilakukan oleh Ghazan menyebabkan orang Mongol yang masih beragam Budha tidak puas namun pemeritahan Ghazan relatif stabil.[8] Selain itu pemerintahan Ghazan juga terkenal bebas dari KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), negaranya aman, bebas dari kelaliman, pemaksaan, dan Ia juga dikenal sebagai sahabat rakyat yang selalu mengunjungi masyarakat baik langsung maupun dengan menyamar. Kemakmuran negerinya dibuktikan dengan banyaknya kepala negara yang berdatangan ke istananya di Tabriz, bahkan India, Spanyol, Mesir, Inggris, dan beberapa negara lain mengadakan hubungan bilateral. Para duta tersebut meramaikan ibukota semasa Ghazan yang sering disebut sebagai The Golden Age Of Islam Post Baghdad.[9]
Sultan Ghazan wafat pada tahun 1304 M pada usia 32 tahun. Wafatnya Ghazan disebabkan oleh konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang Mongol yang bertujuan mengangkat Alanfran, putra saudara sepupunya yakni Gayghaitu. Selanjutnya Uljaytu Khudabanda naik tahta pada 1304 M-1316 M. Ia adalah seorang yang taat beragama Islam, seorang penganut dan pembela madzhab Syi’ah. Ia mengendalikan pemerintahan Dinasti Ilkhan selama kurang lebih 14 tahun, sampai kemudian digantikan oleh Abu Said yang memerintah pada 1317 M sampai 1335 M. Dinasti Ilkhan mengalami kemunduran pasca pemerintahan Abu Said. Pada masa-masa setelahnya Ilkhan dipimpin oleh Arpha, Musa, Muhammad, Jahan Timur, Sati Bek dan Suleman. Ketuju figur raja tersebut adalah raja yang lemah. Pada masa ketujuh raja itu Dinasti Ilkhan mulai mengalami perpecahan dan pertikaian.[10]   
C.    PERIODE DISINTEGRASI DAN KEHANCURAN
Setelah wafatnya Ghazan (1304) akibat serangan jantung setelah penaklukan ke Syam. Kemudian Uljaytu menggantikan posisi saudara kandungnya menjadi pemimpin Dinasti Ilkhan. Pada mulanya Uljaytu beragama Kristen kemudian Buddha dan akhirnya memeluk agama islam. Setelah masuk islam, Uljaytu berganti nama yaitu Muhammad Khuda Bandah
Pada pemerintahan Bandah ini terdapat peistiwa penting yaitu kemenangan Gilan. Saat itu Mongol-Chagthai menyerang Khurasan tetapi Bandah dapat mengalahkannya. Kemudian ia banyak menjalin persahabatan dengan bangsa-bangsa Eropa Barat dengan catatan jika mereka membantu Bandah maka memberikan Palestina kepada mereka. Perjanjian ini dilakukan demi kepentingan mereka untuk menghadapi Mamluk. Namun, perjanjian ini tidak berjalan. Hal ini tidak membuat Uljaytu putus asa, dia mengumpulkan tentara tanpa bantuan Eropa. Uljaytu termakan kata-kata manis dari para gubernur yang membangkang dari Mamluk yang kemudian diangkat menjadi gubernur dibawah kekuasaan Ilkhan. Saat terjadi serangan balasan dari Mamluk, tentara Ilkhan tidak tahan menghadapi medan perang dan memilih mundur dari peperangan tersebut. Sejak saat itu tidak ada penguasa Mongol yang berani menyerang daerah Mamluk.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Uljaytu meneruskan kebijakan dari Ghazan. Ia menjadi penguasa dinasti Ilkhan selama kurang lebih 14 tahun. Setelah itu, kepemimpinan Uljaytu diambil alih oleh Abu Sa’id (1317-1335). ia banyak mengalami kendala politik karena ia naik tahta saat ia masih remaja. Hal itu juga memicu banyaknya pemberontakan dan penolakan terhadap Abu Sa’id. Abu Sa’id mempercayakan kepemimpinannya kepada Cupan. Cupan adalah seorang yang sewenang-wenang dan lalim. Karena sifat itulah banyak tentara Ilkhan yang memberontak.
Saat pemerintahan Abu Sa’id terdapat musuh dalam selimut yaitu Timur Tash, putra dari Cupan, tetapi hal itu dapat mereka tumpas. Permusuhan dengan Dinasti Mamluk dapat mereka atasi dengan perdamaian. Cupan memiliki andil besar atas kekuasaan Abu Sa’id dan dalam menjaga kestabilan negara saat itu. Setelah Abu Sa’id wafat, Dinasti Ilkhan terbagi menjadi beberapa dinasti kecil.Selanjutnya muncul Timur Lenk yang membangun pemerintahannya diatas puing-puing Dinasti Ilkhan. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Dinasti Ilkhan.[11]




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Karim, Abdul.2006. Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam.Yogyakarta: BAGASKARA
Suryanti. 2017.Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan. Jurnal NALAR Vol 1. No 2


[1] Suryanti, 2017, Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan, Jurnal NALAR Vol 1, No 2, hlm. 147-149
[2] Ibid, hlm. 150
[3] Ibid,
[4] Ibid, hlm. 152
[5] Ibid, hlm. 152-153
[6] Abdul Karim, Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm  85
[7] Ibid, hlm 89
[8] Opcit, hlm. 155
[9] Opcit, hlm. 91-92
[10] Suryanti, 2017, Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan, Jurnal NALAR Vol 1, No 2, hlm. 156
[11] Abdul Karim, Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm. 92-94

MAKALAH RENAISANS EROPA

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang pend...