Sabtu, 26 Mei 2018

Makalah TEORI KEKUASAAN, POLITIK DAN EKONOMI

BAB I
PENDAHULUAN

  Latar Belakang
Manusia sebagai penguasa di muka bumi terlalu banyak jumlahnya hingga tidak terhitung oleh jari jemari kita. Kesemua dari mereka memiliki hak untuk memiliki kekuasaan mengatur suatu sekelompok orang yang terbagi dalam suatu negara, suku, ras dan agama. Keberagaman latarbelakang setiap insan menjadi kocar kacir tidak karuan, tidak memiliki keberaturan dan tidak sistemasis tanpa adanya suatu pemimpin yang memerintah atau mengatur kelompok-kelompok kecil tersebut menjadi sebagaimana terlihat oleh kebanyakan orang sekarang.
Kekuasaan menjadi suatu hal yang tidak bisa terlepaskan ketika berbicara pemimpin. Sudah dikatakan pasti para pemimpin memiliki kebijaka-kebijakan kekuasaan selama periode jabatannya. Kebijakan tersebut tidak lain untuk dipatuhi dan ditaati oleh rakyatnya baik secara yuridis maupun normatif. Barangsiapa melanggarnya akan sengsara dan barangsiapa tunduk akan mendapatkan ketentraman jiwa.
Perpolitikan hadir sebagai imbas oleh pemegang kekuasaan dalam menentukan roda kehidupan segerombolan umat yang ia pimpin dalam jabatannya. Tidak lepas dari itu berbagai partai politik memiliki peran penting dalam menghadirkan penguasa yang sesuai dengan keinginan rakyatnya. Dari rakyat untuk rakyat. Hati nurani menjadi penentu yang hakiki dalam hal semacam ini yang tidak bisa dibohongi dan diiming-imingi oleh materi.
Perekonomian tidak luput dari setiap kekuasan dan perpolitikan. Bahkan, bisa jadi ekonomi menjadi hal yang menjanjikan bagi setiap penguasa. Tanpa ekonomi calon penguasa mati. Bagaimana tidak? Mereka tidak bisa berbuat banyak apabila dalam segi ekonomi saja mereka masih keteteran. Namun, tidak boleh disalahkan gunakan juga faktor ekonomi tersebut untuk mengotori amanah dari rakyat di meja perwakilannya.

Hal inilah yang kemudian menjadi titik balik penulis untuk menganalisis sejuahmana teori-teori yang masuk dalam kekuasaan, politik dan ekonomi. Dengan adanya pemahaman demikian diharapkan tidak terjadinya kesalahpahaman dalam memandang tindak tanduk dari pemegang kekuasaan. Oleh karena itu, kami selaku penulis, menyusun makalah ini dengan judul “Teori Kekuasaan, Politik, dan Ekonomi” dengan tujuan memberi pemahaman kepada pemerhati dalam hal kekuasaan, politik dan ekonomi.   
Rumusan Masalah
Apa yang menjadi pengertian dasar dari teori kekuasaan, politik dan ekonomi?
Apa saja yang lahir dari rahim teori kekuasaan, politik dan ekonomi?
Bagaimana hubungan dari teori kekuasan, politik, dan ekonomi dalam realita kehidupan?
  Tujuan
Mengetahui pengertian dasar mengenai teori kekuasaan, politik dan ekonomi.
Mengetahui output yang dihasilkan dari teori kekuasaan, politik, dan ekonomi.
Mengerti dan memahami hubungan daripada teori kekuasaan, politik dan ekonomi dalam realita kehidupan bernegara.






BAB II
PEMBAHASAN

Teori Kekuasaan
Max Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kesempetan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan kemauan sendiri dalam suatu tindakan sosial, meskipun mendapat tantangan dari orang lain yang terlibat dalam tindakan itu. (Paloma, 1979: 52). Kesempatan merupakan satu konsep yang sangat yang sangat inti dalam definisi Weber. Dalam definisi di muka, kesempatan dapat dihubungkan dengan ekonomi, kehormatan, partai politik atau dengan apa saja yang merupakan sumber kekuasaan bagi seseorang.
Sebuah negara tentu memiliki suatu sistem pemerintahan yang berdaulat. Negara Indonesia memiliki kekuasaan dalam mengatur seluruh rakyatnya dalam rangka mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial penduduknya. Kekuasaan negara dijadikan sebagai kewenangan negara dalam menjalankan sistem pemerintahan. Pemerintahan dalam arti luas adalah segala urusan yang dilakukan oleh negara dalam rangka menyelenggarakan kesejahteraan rakyat dan kepentingan negara.  Ada dua teori yang menjadikan dasar pembagian kekuasaan sebuah negara. Tujuan dari adanya pembagian kekuasaan agar tidak terjadi kekuasaan yang absolut dan adanya penyebaran tugas negara sehingga lebih efisien dan efektif. Trias Politika :
1. John Locke dalam bukunya yang berjudul 'Two Treaties of Goverment' mengusulkan agar membagi kekuasaan negara menjadi tiga tipe kekuasaan yaitu:
a. Kekuasaan legislatif, merupakan kekuasaan untuk membuat dan menyusun undang-undang.
b. Kekuasaan eksekutif, merupakan kekuasaan negara untuk melaksanakan undang-undang berikut pelanggaran terhadap undang-undang.
c. Kekuasaan federatif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan hubungan luar negeri.

2. Montesquieu dengan teori 'Trias Politica' membagi kekuasaan ke dalam tiga macam yaitu:
a. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat dan membentuk undang-undang.
b. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan  untuk melaksanakan undang-undang.
c. Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mempertahankan undang-undang termasuk kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran terhadap undang-undang oleh warga negara.
Locke dan Montesquieu memiliki kesamaan konsep tentang kekuasaan legislatif namun konsep lainnya yaitu eksekutif dan yudikatif punya perbedaan mendasar yaitu:
a. Locke, menilai eksekutif merupakan kekuasaan yang mencakup kekuaaan yudikatif karena mengadili itu berarti melaksanakan undang-undang, sementara kekuasaan federatif merupakan kekuasaan untuk melakukan hubungan luar negeri yang beridiri sendiri.
b. Montesquieu, kekuasaan eksekutif mencakup kekuasaan federatif karena melakukan hubungan luar negeri itu termasuk kekuasaan eksekutif sementara kekuasaan yudikatif harus merupakan kekuasaan yang berdiri sendiri dan terpisah dari eksekutif.
c. Pada kenyataannya sejarah menunjukkan bahwa pembagian kekuasaan yang dikemukaan Montesquieu lebih diterima dan banyak diaplikasikan oleh berbagai negara termasuk Indonesia.
Secara umum kekuasaan dpat diartikan sebagai kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Kekuasaan politik adalah semampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik terbentuknya atau akibat akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan pemegang kekuasaan sendiri.
Kekuasaan tidak selamanya berjalan lancar, karena alasan dalam masyarakat pasti ada orang yang tidak setuju atau melakukan perlawanan, baik secara terbuka ataupun terselubung terhadap kekuasaan. Bahkan menurut Etzioni, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengatasi sebagian atau semua perlawanan, untuk mengadakan perubahan-perubahan pada pihak yang memberikan oposisi. (Poloma, 1979).
Teori Politik
Politik adalah kompetesi yang berlangsung antara manusia, biasanya dalam kelompok, untuk membuat kebijakan sesuai keinginan mereka. Untuk melakukan hal itu, kebijakan mungkin dibuat secara tidak langsung dengan membentuk nilai dan kepercayaan anggota masyarakat. Definisi ini dapat meliputi politik pemerintahan, tetapi juga mencakup dinamika politik dalam konteks lain. Politik nyatanya lebih fundamentalis daripada pemerintah dan muncul di setiap kompetisi antarmanusia.
Kekuasaan Politik
Seperti yang ditekankan oleh filsuf Florensia di masa Renainsans, Niccolo Machiavelli (1469-1527), pada akhirnya politik adalah tentang kekuasaan, terutama kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Kekuasaan dalam politik membuat orang melakukan sesuatu yang tidak akan mereka lakukan, dan terkadang membuat mereka percaya itu adalah ide mereka.
Sebagian orang tidak menyukai konsep kekuasaan politik, karena tersirat makna pemaksaan, ketidaksetaraan, dan terkadang kekejaman. Sebagian lainnya tidak mengakui “kekuasaan politik”, beranggapan pemerintah tanpa kekuasaan adalah sebuah ikatan persaudaraan berbahagia yang meregulasi dirinya melalui cinta dan berbagi. Komunitas yang dibentuk tanpa kekuasaan tidak akan bertahan, atau hanya dengna mentransformasikannya menjadi struktur konvensional pemimpin dan pengikut, dan ditunjang oleh pola kepatuhan yang mirip dengan kekuasaan, barulah komunitas dapat bertahan. Kekuasaan politik sepertinya telah ada dalam kondisi manusia. Lalu mengapa sebagian orang memegng kekuasaan politik atas lainnya? Penjelasan biologis, psikologis, kultural, rasional dan irasional nampaknya akan menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi mengenai penjelasan secara pasti mengenai kekuasaan politik itu tidak ada.
Biologis
Aristoteles telah mengatakannya dengan sangat baik : “ manusa secara natural adalah makhluk politik”. Menurut Aristoteles, secara alamiah manusia hidup dalam kawanan seperti gajah atau bison. Secara biologis, mereka membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Secara natural mereka mengatur dirinya berdasarkan pemimpin dan pengikut, seperti semua kawanan hewan. Berangkat dari Aristoteles, penjelasan biologis modern yang berdasarkan perilaku primata, mengatakan bahwa membentuk sistem politik dan mematuhi pemimpin adalah pembawaan sejak lahir dan diwariskan melalui genetik.
Apabila kita setuju bahwa secara natural manusia bersikap politis, bagaimana kita menjelaskan ketika sesuatu kelompok politik terpecah dan rakyat tidak mematuhi otoritas? Mungki kita harus mengubh teorinya : mansuia secara tidak sepurna adalah makhluk politik atau sosial. Seringkali masyarakat membentuk kelompok dan mematuhi otoritas, tetapi terkadang dalam situasi tertentu tidak demikian.
Psikologis
Penjelasan psikologis tentang politik dan kepatuhan erkait erat dengan teori biologis. Keduanya membutuhkan evolusi berabad-abad untuk membentuk kelompok politik. Dalam stuid Milgram yang terkenla, seubjek diberikan intruksi untuk mengalirkan kejutan listrik secara progresif kepada korban. “Korban” yang diikat di kursi sesungguhnya adlah aktor yang berpura-pura kesakitan. Kebanyakan subjek bersedia melakukannya hanya karena “profesor” (figur berwenang) menyuruh mereka berbuat demikian. Mayoritas subjek tidak subjek tidak suka menyakiti orbannya tetpai berdalih mereka hanya mengikuti instruksi dan kerugian yang dialami korban sepenuhnya menjadi tanggungjawab profesor.
Studi psikologi juga menunjukkan bahwa mayoritas orang secara natural adalah konformis. Psikolog Irving Janis menemukan bahwa banyak kesalaha kebijakan di luar negeri dibuat dalam kondisi “pemikiran kelompok”, yakni pemimpin kelompok mengatakan bahwa situasi kondusif dan kebijakan bejalan dengan baik. Kepatuhan terhadap otoritas dan pemikiran kelompok menunjukkan bahwa manusia memiliki kepatuhan mendalam untuk berkelompok dan mengikuti norma kelompok.
Kultural
Pada abad ke  20, teori kultural mendominasi, yani bahwa perilaku manusia adalah hasil pembelajaran. Para antropolog menyimpulkan segala perbedaan perilaku adalah kultural. Masyarakat yang kooperatif dan damai membesarkan anak mereka dengan cara dengan cara demikian. Komunitas politik dibentuk dan bertahan atas dasar nilai kultural yang diteruskan melalui orang tua, gereja, sekolah, dan media massa. Peneliti budaya politik menemukan bahwa budaya politik sebuah negara dibentuk oleh faktor jangka anjang, seperti agama, pola pengasuhan anak, kepemilikan tanah dan pembangunan ekonomi.
Ahli teori  budaya kesulitan ketika sistem politik tidak berkaitan dengan sistem budaya, seperti ketika shah Iran berupaya memodernisasi masyarakat islam yang tidak menyenangi nilai dan gaya hidup Barat. Rakyat Iran menggulikan para shah di tahun 1979 dan menyambut kembalinya gaya pemimpin religius Abad Pertengahan yang menyuarakan nilai tradisional rakyat. Teori kultural juga dapat diterapka untuk politik Amerika Serikat. Parta Republik berupaya memenangkan Pemilu dengan menyuarakan nilai-nilai agama, kekeluargaaan, dan kemandirian yang mejadi akar budaya Amerika Serikat. Para ahli percaya bahwa pembangunan politik dan ekonomi bergantung pada budaya. Budaya memilki berkontribusi besar terhadap perilaku politik. Hal ini berdasarkan pada terwujudnya pendekatan kultural yang memunculkan sikap optimisme terhadap kehidupan politik. Selain itu, kaum muda juga menjadi terdidik oleh sikap toleran, kooperatif, dan adil yang akan mengubah budaya masyarakat secara perlahan menjadi lebih baik.

Rasional
Pendekatan lainnya memandng politik sebagai sesuatu yang rasional, yaitu bahwa orang mengetahui apa yang mereka inginkan dan mereka memiliki alasan yang kuat mengapa mereka melakukannya. Ahli teori politik klasik seperti politik klasik, seperti Hobbes dan Loccke, percaya bahwa manusia membentuk masyarakat madani atau sipil karena menurut pikiran mereka itu lebih baik dibandingkan anarki.
Pendek atan biologis, psikologis, dan kultural meremehkan akal manusia, mengklaim bahwa manusia dilahirkan atau dikondisikan dalam perilaku tertentu dan individu jrang berpikir secara rasional. Sistem politik berdasarkan asumsi dasar rasionalitas manusia lebih baik dalam membangun pemerintahan secara adil dan manusiawi. Bila pemimpin beranggapan bahwa rakyat akan patuh karena keturunan atau kondisi kultural, mereka lolos dari segala tindakan penipuan dan pemerintahan yang buruk. Sebaliknya, jika pemimpin beranggapan rakyat berpikir rasional, mereka akan menghormati kemampuan rakyat untuk mengenali kesalahan.
Irasional
Di akhir abad ke 19, sekelompok ahli mngembangkan pemikiran bahwa pada dasarnya manusia bersikap irasional, terutama terkait dengn politik. Rakyat bersikap emosional, didominasi oleh mitos dan stereotip, dan politik sesungguhnya adlah manipulasi simbol. Massa dianalogikan seperti seekor binatang buas yang dipecut untuk melakukan bisnis majikan mereka. Apa yang dianggap sebagai rasional sesungguhnya hanyalah mitos, untuk mengendalikan rakyat cukup berikan mitos. Praksisi pertama pendekatan ini adalah Mussolini, pendiri fasisme Italia dan diikuti oleh Hitler di Jerman. Fundamentalis Muslim, Osama Bin Laden memiliki ribuan fanatik denan enciptakan mitos bahwa Amerika adalah musuh Islam.
Walaupun pendektan irasional terhadap perilaku manusia bermanfaat, tetapi konsekuensi yang ditimbulkan cukup berbahaya. Pemimpin yang menggunakan teknik atau teori irasional mulai meyakinipropaganda mereka dan membawa negara pada perang, kehancuran ekonomi, atau tirani. Sebagian menemukan irasionalisme bahkan di masyarakat paling maju sekalipun, yaitu politik yang dicerminkan oleh pemimpin bergaya heroik dan seruan massa.
Kekuasaan Sebagai Perpaduan
Segala penjelasan mengenai kekuasaan politik memiliki kebenarannya masing-masing. Di waktu dan situasi yang berbeda, masing-masing dapat menjelaskan kekuasaan. Kekuasaan adalah koneksi antar-orang, kemanapun seseorang untuk membuat orang lain melakukan keinginannya. Kekuasaan politik tidak berbentuk botol atau megawatt. Revolusionis berbicara tentang “merebut kekuasaan”, seolah kekuasaan disimpan sebagai harta nasional dan dapat direbut secara diam-diam.
Apakah kekuasaan identik dengan politik? Sebagian orang yang gila kekuasaan (termasuk politisi) menganggap keduanya sama, tapi ini sesungguhnya adalah oversimplifikasi. Kita menganggap politik sebagai sebuah kombinasi tujuan atau kebijakan serta kekuasaan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Dalam pandangan ini, kekuasaan adalah bahan utama dalam politik. Sangat sulit  membayangkan sistem politik tanpa kekuasan politik. Bahkan sosok religius yang berkuasa atas nama cinta menjalankan kekuasaan pada pengikutnya. Kekuasaannya mungkin bersifat baik, tetapi tetap saja itu kekuasaan. Dengan demikian kekuasaan adalah alat bantu untuk menjalankan atau mengimplementasikan kebijakan dan keputusan. Lainnya melihat esensi politik sebagai perebutan kekuasaan, sebuah permainan besar dengan kekuasaan sebagai tujuannya. Misalnya, apa inti dari Pemilu? Yakni perolehan kekuasaan, namun demikian, bila kekuasaan menjadi tujuan politik dan mengesampingkan tujuan lainnya, bahayanya adalah politik menjadi sinis, brutal, dan merugikan.
  
Teori Ekonomi
Pertumubuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang menuju keadaan yang lebi baik selama periode tertentu dan dapat dikaitkan juga sebagai keadaan kenaikan kapasitas produksi suatu perekonoian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan. Adanya pertumbuhan karena adanya indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Dalam analisis makro pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh satu negara diukur dari perimbangan pendapatan nasional trill yang di capai satu negara.
Secara teori, pertubuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi tidak akan menjai pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertumbuhan yang ditopang olen investasi. Pertumbuhan yang ditopang oleh investasi akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Keseimbangan dalam prekonomian dalam satu negara tidak hanya mengandalkan sektor swasta. Kontribusi dalam sektor pemerintah pun sangat dibutuhkan dan dihandalkan.
Apabila konsumsi meningkat maka ekonomipun akan mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan konsumsi berarti telah terjadi peningkatan permintaa terhadap barang dan jasa. Terjadinya peningkatan permitaan terhadap barang dan jasa akan memaksa perekonomian untuk meningkatkan produksi barang dan jasa. Begitupun sebaliknya apabila konsumsi mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami penurunan.
Berikut beberapa teori ekonomi menurut para ahli ekonomi:
Adam Smith
Menurut Adam Smith, ilmu ekonomi adalah ilmu kekayaan atau ilmu yang khusus mempelajari sarana-sarana kekayaan suatu bangsa dengan memusatkan perhatian secara khusus terhadap sebab-sebab material dari kemakmuran, seperti hasil-hasil industri, peranian dan sebagainya.

Alferd Mashal
Menurut Alferd Mashal, ilmu ekonomi adalah ilmu yang memepelajari usaha individu dalam ikatan pekerjaan dalam kehidupannya sehari-hari. Ilmu ekonomi membahas kehidupan manusia yang berhubungan dengan bagaimana ia memperoleh pendapatan dan bagaimana pula ia mempergunakan pendapatan ini/
Paul A.Samuelshon
Menurut Paul A.Samuelshon, ilmu ekonomi adalah studi mengenai bagaimana cara manusia dan masyarakat sampai pada pilihian (dengan atu tanpa uang) untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi yang terbatas yang dapat mempunyai kegunaan-kegunaan alternatif untuk menghasilkan berbagai macam barang dan mendsitribusikan untuk konsumsi baik yang sekarang maupun masa yang akan datang diantara berbaga orang dan golongan dalam masyarakat.
Aristoteles
Artoteles membedakan  Oikonomis dan  Crematisti , menurutnya Oikonomis adalah menyelidiki peraturan rumah tangga, dan Crematisti adalah mempelajari peraturan-peraturan tukar-menukar, pemikiran ini dapat disebut sebagai erintis jalan bagi berkembangan teori ekonomi.
Alferd W.Stonier
Alferd W.Stonier membagi ilmu ekonomi dengan 3 kelompok yakni :
Ilmu ekonomi deskriktif ilmu ekonomi mendiskripsikan data-data yang menjelaskan berbagai fenomena dan kenyataan yang terjadi.
Teori ilmu ekonomi memberikan penjelasan yang disederhanakan tentang caranya suatu sistem ekonomi bekerja dan ciri-ciri yang penting dari sistem it.
Ilmu ekonomi merupakan terapan ilmu ekonomi memepergunakan rangka dasar umum dan analisis yang diberikan oleh ekonomi teori untuk menerangkan sebab-sebab dan arti pentingnya kejadian-kejadian yang dilaporkan oleh para ahli ekonomi deskriktif.
Istilah dalam teori-teori ekonomi
Ada beberapa istilah yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi atau dalam kehidupan sehari-hari :
Kapasitas adalah tingkatan output yang berkaitan dengan total biaya rata-rata jangka pendek yang minimalis
Kapitalis adalah seseorang yang memiliki barang-barang modal
Kartel adalah organisasi para produsen yang sepakat untuk menjadi satu penjual tunggal
Kebijakan fiscal adalah penggunaan kegiatan menaikan pendapatan dan kegiatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah dalam usahanya mempengaruhi variable makro seperti GNP dan lapangan kerja
Kebijakan fiscal bebas adalah kebijakan yang dikeluarkan untuk mengatasi setiap keadaan ekonomi yang khusus apabila terjadi
Kebijakan fiskal adalah langkah pemereintah di bidang perpajakan dan pengeluarannya
Kebijakan makro ekonomi adalah langkah-langkah pemerintah untuk mempengaruhi keseluruhan perekonomian dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi kegiatan ekonomi
Kebijakan moneter adalah langkah pemerintah untuk mengatur penawaran uang dan suku bunga
Kebijakan pendapatan adalah setiap campuran pemerintah untuk mengatur setiap upah
Kebijakan perdagangan adalah berbaga pembatasan antar arus bebas barang dan jasa antar negara.

Hubungan Teori Kekuasaan, Politik dan Ekonomi
Setiap hal tidak bisa terlepaskan dengan hubungan ataupun relasi dengan suatu hal lainnya, sebagaimana teori keuasaan, politik dan ekonomi. Ketiganya memiliki hubungan yang berkaitan diataranya adalah:
Tanpa adanya kekuasaan yang lahir dalam sebuah kelompok, tidaklah akan tercipta politik yang akan membentuk sebuah pemerintahan dan membangun susunan ekonomi yang akan mensejahterakan rakyatnya atau sekelompok tersebut.
Manusia tidak dapat terlepas dari pelaku dan korban daripada kekuasaan politik, dan ekonomi.
Kebijakan dan keputusan hadir sebagai wujud dari adanya kekuasaan, suatu kekuasaan itu mengantarkan lahirnya politik dan juga ekonomi.
Pada intinya ketiga teori yang telah tersampaikan adalah memiliki hubungan yang berkaitan antara satu dengan lainnya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kekuasaan hadir untuk mengatur segala bentuk tatanan pemerintahan baik dari segi politiknya maupun ekonomi. Saling berebut kekuasaan menjadi ciri khas tersendiri ketika banyaknya sang penguasa yang ingin bergerilya membawa misinya. Politik sebagai medannya para penguasa dalam mencapai keinginannya, guna menjalankan gerilya misinya. Banyak partai sudah menjadi hal biasa yang mengembara seluk beluk para penguasa. Berlatar belakang berbeda dan keyakinan yang berbeda pula memiliki cara tersendiri dalam menarik simpati rakyatnya untuk memilihnya.
Ekonomi nampaknya menjadi suatu hal barometer ketertarikan rakyat kepada penguasa untuk layak dinobatkan menjadi pimpinannya. Berbekal ekonomi kuat maka rakyatpun semakin kuat dalam mendukungnya. Namun, hal ini tidak selamanya berlaku tanpa diimbangi adanya power tersendiri dalam mempengaruhi dan didukung pula kuat ato tidaknya kekuatan politik yang diikuti.

DAFTAR PUSTAKA
Guru Geografi. Teori Kekuasan Negara John Locke., “http://www.gurugeografi.id/2017/08/teori-kekuasaan-negara-john-locke-dan.html” diakses pada tangal 15 Mei 2018 pukul 21.00.
Imam, Hidayat. Teori-Teori Politik. Malang: Setara Press. 2009, hal 31.
Michael G. Roskin, dkk. 2016. Pengantar Ilmu Politik. Jakarta: Kencana
Thomas, Santoso. “Kekuasaan dan kekerasan”, Masyarakat, Kebudayaan daN Politik, Tahun XIV, Nomor 4, Oktober 2001, 89.

Jumat, 18 Mei 2018

Makalah METODE RISET SOSIAL

METODE RISET SOSIAL
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi
Dosen: Dr. H. Moh Mahbub, S,Ag., M.Si.

Disusun oleh :
Hesti Dwi Palupi (173231044)
Muhammad Muamar K. (173231047)
Hafizhan Pramanda P. (173231053)

SEJARAH PERADAPAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam proses melakukan pemahaman terhadap bagaimana memahami sosiologi hingga memperdalam mengenai ilmu tersebut, maka diperlukanlah adanya metode riset sosial atau sosiologi yang tepat dengan tujuannya tersebut dalam rangka untuk mencari tahu suatu persoalan ataupun masalah yang cukup penting atau sekedar ingin mengetahui bagaimana kondisi sesuatu. Dalam konteks tersebut untuk mempelajari sosiologi terdapat dua metode riset sosial yang perlu diketahui. Yang pertama, yakni metode kualitatif dan yang kedua yakni metode kuantitatif. Kedua metode tersebut memiliki keunggulan, tahapan serta perbedaan sendiri-sendiri. Untuk memahami metode riset kualitatif dan metode riset kuantitaif, maka kami sebagai pemakalah akan memaparkan melalui makalah yang kami buat ini serta maka dari itu kami membuat makalah ini selain sebagi tugas juga kami berharap makalah kami ini dapat bermanfaat bagi kita.
Untuk memperkuat analisis mengenai penelitian yang berkaitan dengan sosial agar mampu untuk memecahkan persoalan masyarakat baik yang berkaitan dengan sosial, politik, budaya dst yang secara umum tidak dapat terhindarkan dari kehidupan masyarakat. Mengenai metode penelitian sosial merupakan salah satu solusi yang harus dikembangjan oleh semua kalangan aga mampu nantinya memberikan penyelesaian mengenai suatu permasalahan tersebut guna terciptanya masyarakat yang berkompeten dalam segala hal agar dapat secara mudah memecahkan persoalan dalam masyarakat. Penelitian sosial juga dapat digunakan sebagai penyelidikan-penyelidikan yang dirancang untuk menambah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial atau praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunjukkan pada hubungan-hubungan antara dan diantara orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, instituisi (sekolah, komunitas, organisasi dan lain sebagainya) dan lingkungan yang lebih besar.
 


Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan  penelitian sosial?
Apa yang dimaksud dengan kualitatif?
Apa yang dimaskud dengan kuantitatif?

Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penelitian sosial.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kualitatif.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kuantitatitatif

BAB II
PEMBAHASAN
Penelitian Sosial
Usaha manusia untuk memenuhi dorongan rasa ingin tahu terhadap dunia sekitarnya itulah yang nantinya dapat menghasilkan penelitian. Usaha untuk memenuhi dorongan ingin tahu tersebut atau untuk mendapatkan jawaban serta penyelesaian terhadap masalah yang ditempuh dengan mengikuti metode-metode tertentu.
Penelitian adalah sebuah proses kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu secara teliti, kritis dalam mencari fakta-fakta dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Keinginan untuk mengetahui sesuatu tersebut secara teliti, muncul karena adanya suatu masalah yang membutuhkan jawaban yang benar. Berbagai alasan yang menjadi sebab munculnya sebuah penelitian. Misalnya, mengapa lalu lintas di Ibukota Jakarta sering macet?, mengapa disiplin karyawan/pegawai rendah?, mengapa prestasi siswa rendah?, mengapa kualitas pelayanan rendah?, mengapa kepuasan masyarakat terhadap kinerja instansi pemerintah rendah?. Fokus perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah yang dituangkan dalam pertanyaan penelitian.
Penelitian atau riset adalah metode ilmiah secara formal sistematis untuk menjawab atau menyelesaikan masalah. Dalam pengertian yang senada Fuad Hasan dan Koentjoroningrat menegaskan bahwa penelitian merupakan usaha untuk menangkap gejala-gejala alam dan masyarakat berdasarkan disiplin metodologi ilmiah dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip baru yang terkandung di dalam gejala-gejala tadi. Dapat juga dikatakan bahwa Riset adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita.
Selanjutnya mengenai pengertian dari penelitian sosial. Penelitian sosial adalah penggunaan metode ilmiah secara formal dan sistematis untuk menyelesaikan masalah-masalah di bidang sosial. Perbedaan pokok antara penelitian sosial dengan penelitian yang lain terletak pada sifat dasar dari kejadian atau gejala yang dipelajari. Obyek dari penelitian sosial adalah manusia. Apa yang mereka fikirkan, perbuatan mereka, perasaan mereka, bagaimana mereka berintegrasi satu sama lain. Jadi, sasarannya adalah manusia sebagai makhluk sosial. Manusia yang berfikir, bertindak, dan berperilaku karena keberadaannya di masyarakat.
Dalam proses penelitian atau kegiatan riset diperlukan metode yang jelas, yakni metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode penelitian kualitatif lebih menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik meskipun tidak selalu harus menyertakan penggunaan angka.
Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui tutur bahasa, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan.
Kita melakukan penelitian bertujuan untuk menerangkan fenomena yangterjadi dan menarik minat kita untuk diamati atau menjawab pertanyaan apayang ingin kita peroleh karena itu hubungan antara penentuan masalah dantujuan penelitian sangat erat. Untuk memahami suatu fenomena, sering kaliseorang peneliti menghubungkan fenomena tersebut dengan fenomena yanglain. Misalnya, fenomena kenakalan remaja (perkelahian antarremaja disekolah menengah) dihubungkan dengan fenomena jarak lokasi sekolah danperbedaan kelas sosial; fenomena pemakaian jenis alat transportasi ke tempatkerja dengan fenomena penghasilan. Fenomena yang kita teliti dapatberhubungan dengan lebih dari satu fenomena yang lain, misalnya fenomenaperbedaan prestasi belajar mahasiswa dengan fenomena lingkungan keluarga,cara belajar, motivasi mahasiswa, keaktifan mahasiswa mengikutiperkuliahan. Dari faktor-faktor tersebut di atas dianalisis, mana yang palingerat hubungannya dengan prestasi belajar. Peneliti dapat mengambil kesimpulan, faktor mana yang paling berperan. Faktor yang paling berperan adalah faktor yang mempunyai hubungan paling erat dengan prestasi belajar.
Langkah-langkah dalam melakukan penelitian sosial adalah sama dengan langkah-langkah dalam melakukan penelitian yang lain, yaitu:
Pemilihan masalah
Biasanya peneliti untuk memiliki ide mengenai suatu permasalahan, kemungkinan masalah dapat timbul ketika peneliti melihat adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan yang dirasa kurang puas ataukah ingin tahu.  Namun untuk memiliki topik atau permasalahan yang berbobot bisa diperoleh dari teori atau pengalaman-pengalaman penulis dan melalui literatur.
Topik atau suatu permasalahan itu berasal dari ide atau gagasan dari si penulis sendiri. Darimanapun diperolehnya topik tersebut, pada akhirnya penulislah yang harus mempertimbangkan dan menentukannya. Untuk itu peneliti hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :
Topik harus benar-benar menarik
Topik cukup mempunyai permasalahan yang cukup mendesak untuk mendapatkan penyelesaian
Menghindari topik yang dapat mengganggu persatuan dan ketentraman masyarakat luas
Topik yang dipilih hendaknya maasih dalam jangkauan kemampuan penulis/ peneliti.
Tersedia cukup data yang diperlukan untuk dianalisis
Tersedianya biaya, waktu serta alat yang cukup
Pembangunan hipotesis melalui kajian pustaka
Hipotesis adalah penjelasan yang bersifat sementara untuk tingkah laku, kejadian atau peristiwa yang sudah ada atau akan terjadi, hipotesis dibuat atas dasar pengetahuan-pengetahuan yang diambil dari problematika-problematika yang timbul dari penelitian yang mendahuluinya.
Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data
Mengumpilkan data dapat melalui observasi, wawancara, dst yang nantinya data tersebut selanjutnya di identifikasi atau diorganisasikan ke dalam data masing-masing variabel lalu data tersebut dianalisis berdasarkan persoalan yang hendak diketahui.
Verifikasi data
Menghubungkan atau memastikan data tersebut benar-benar ada serta disesuikan dengan data-data yang dibutuhkan dalam suatu permasalahan yang diangkat.
Memformulasikan kesimpulan-kesimpulan
Data-data tersebut kemudian diformulasikan atau dipadukan lalu dituangkan atau dibuat kesimpulan-kesimpulan.

Proses Penelitian Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif ialah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik. Salah satu metode pengambilan data yang biasanya digunakan dalam penelitian kuantitatif sendiri adalah dengan cara survei.
Seperti telah diketahui bahwa penelitian itu pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah. Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan dan sebagainya. Masalah itu harus digali melalui studi pendahuluan melalui fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti harus menguasai teori melalui membaca berbagai referensi. Selanjutnya supaya masalah dapat dijawab maka dengan baik masalah tersebut dirumuskan spesifik, dan pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya.
Maka setelah itu maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrument ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk test, angket/ kuesioner, untuk pedoman wawancara atau observasi. Sebelum instrument digunakan untuk pengumpulan data, maka instrument penelitian harus terlebih dulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi maupun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap temuannya, maka sampel yang diambil harus representatif (mewakili). Setelah data terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu.
Kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu periode penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas maka tampak bahwa proses penelitian kuantitatif bersifat linier, dimana langkah-langkahnya jelas, mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan dan saran. Penggunaan konsep dan teori yang relevan serta pengkajian terhadap hasil-hasil pene-litian yang mendahului guna menyusun hipotesis merupakan aspek logika (logico-hypothetico), sedangkan pemilihan metode penelitian, menyusun instrument, mengumpulkan data dan analisisnya adalah merupa-kan aspek metodologi untuk menverifikasikan hipotesis yang diajukan.
Beragam ciri yang terdapat dalam penelitian kuantitatif, ciri-ciri atau karakteristik dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Penelitian kuantitatif lebih bersifat spesifik, jelas, dan terperinci.
Etik, artinya dalam penelitian kuantitatif ini mementingkan pandangan orang lain.
Menunjukkan hubungan antar varlabel
Penelitian kuantitatif biasanya memulai dengan teori dan hipotesis (deduktif)
Komputer, kalkulator dan aplikasi stafistik menjadi instrumen utama jenis penelitian kuantitatif ini
Teknik pengumpulan data yang biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif antara lain yaitu eksperjmen survei, dan angket.
Analisis dilakukan setelah pengumpulan data.
Hubungan dengan informan memiliki jarak dan berjangka pendek.
Proses Penelitian Kualitatif
Pendekatan kualitatif ialah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek-aspek kecenderungan, non perhitungan numerik, situasional deskriptif, interview mendalam, analisis isi, dst.
Setelah kita mendapatkan objek  penelitian, yang pertama yakni tahap orientasi atau deskripsi. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Mereka baru mengenal serba sepintas terhadap informasi yang diperolehnya. Tahap deskripsi data yang diperoleh cukup banyak, bervariasi dan belum tersusun secara jelas.
Lalu yang kedua disebut tahap reduksi/ fokus. Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap pertama. Pada proses reduksi ini peneliti menyortir data dengan cara memilih data yang menarik, penting, berguna, dan baru. Data yang dirasa tidak dipakai disingkirkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka data-data tersebut selanjutnya dikelompokan menjadi berbagai kategori yang ditetapkan sebagi fokus penelitian.
Tahap selanjutnya yakni tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci. Ibaratnya pohon, kalau fokus itu baru pada aspek cabang, maka kalau pada tahap seleksi peneliti sudah mengurai sampai ranting, daun dan buahnya. Selanjutnya peneliti melakukan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh.
Menurut Cassell dan Symon, ciri-ciri dari sebuah penelitian kualitatif adalah:
Tidak adanya “angka” dalam pengolahan data;
Bertujuan untuk menjelaskan arti/maksud dari sebuah fenomena;
Umumnya meneliti tentang fenomena terkini;
Lebih fleksibel dibanding penelitian kuantitatif; dan
Memiliki aspek refleksi peneliti.
Bryman dan Bell menyebutkan bahwa dalam sebuah penelitian kualitatif, peneliti mencoba ‘melihat’ sebuah fenomena dari kacamata narasumber (“insider’s view”). Konteks adalah aspek yang sangat penting dalam sebuah penelitian kualitatif. Oleh karena itu, sebuah penelitian kualitatif harus mendeskripsikan dengan jelas, dan serinci mungkin, konteks yang terlibat (atau yang melekat) terhadap subyek penelitian. Konteks penelitian yang variatif dan pentingnya refleksi si peneliti terhadap data penelitian membuat penelitian kualitatif umumnya tidak berstruktur terlalu ketat.
Penelitian kualitatif mengasumsikan bahwa kebenaran (‘truth’) merupakan suatu hal yang subyektif (Cassel dan Symon, 1994). Epistemologi berbeda akan menghasilkan interpretasi yang berbeda pula, sehingga epistemology sangan memengaruhi keseluruhan proses penelitian. Beberapa metode yang digunakan penelitian kualitatif untuk mendapatkan data di antaranya adalah wawancara, focus group discussion (FGD) dan dokumen. Data sebuah penelitian kualitatif dapat berupa teks/tulisan dan gambar.
Pendekatan kualitatif sangat berguna jika subyek penelitian dianggap sangat kompleks, sehingga dibutuhkan penjelasan dan eksplorasi mendalam. Pendekatan ini juga dapat digunakan ketika teori atau konsep yang dipakai untuk memahami sebuah fenomena penelitian belum terbentuk dengan baik, sehingga masih banyak ruang bagi teori tersebut untuk dikembangkan lagi. Kekurangan dari pendekatan ini adalah terbatasnya lingkup generalisasi terhadap hasil penelitian yang didapat. Hal ini dikarenakan adanya konteks yang spesifik dalam penelitian tersebut, sehingga belum tentu penelitian ini dapat direplikasikan dalam konteks yang berbeda.
Terdapat bermacam-macam metode pengambilan data. Diantaranya yakni :
Wawancara
Wawancara merupakan metode pengambilan data yang umum digunakan untuk studi kualitatif, yang dilakukan terhadap orang-perorangan. Meski demikian, wawancara juga dapat dilakukan untuk mendapatkan data survei sebuah studi kuantitatif. Pada bagian ini, kami fokuskan pada perancangan dan pelaksanaan wawancara untuk sebuah studi kualitatif.
Survei
Survei merupakan salah satu metode pengambilan data yang sistematik, untuk mendapatkan informasi. Informasi yang dituju oleh sebuah survei dapat beragam, misalnya informasi faktual (contohnya data diri, pendapatan, dll), preferensi (contohnya pilihan makanan, dll), dan tingkah laku (contohnya kebiasaan merokok, dll). Informasi yang diperoleh kemudian dapat digunakan untuk melihat data tren dari sebuah fenomena.
Focus Group Discussion
Metode focus group discussion (FGD) adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian kualitatif. Dengan metode ini, sebuah grup narasumber akan ditanyakan pendapat, persepsi dan sikap mereka terhadap sebuah fenomena atau objek penelitian tertentu.
FGD merupakan suatu alat dimana peneliti dapat meneliti partisipan (atau narasumber) dalam kondisi yang lebih natural dibanding dengan wawancara perorangan. Pertanyaan-pertanyaan akan diajukan dalam kondisi grup yang interaktif dimana partisipan FGD sebagai narasumber penelitian tersebut dapat berbicara bebas dengan anggota grup lainnya. Jawaban dari pertanyaan dalam sebuah FGD dapat menjadi lebih kaya dan variatif dibanding jika pertanyaan tersebut ditanyakan melalui wawancara perorangan.
Metode Dokumentasi
Yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal yang berupa benda-benda tertulis, buku-buku, majalah, dokumentasi, peraturan, catatan harian.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Jadi penelitian atau riset merupakan upaya proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita. Yang nantinya akan dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut serta memberikan pemahaman yang cukup mendalam dalam persoalan yang sedang di cari tahu. Metode riset sosial ini di bagi menjadi dua, yakni kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan Kuantitaif merupakan pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik. Salah satu metode pengambilan data yang biasanya digunakan dalam penelitian kuantitatif sendiri adalah dengan cara survei. Sedangkan dengan kualitatif merupakan Pendekatan kualitatif ialah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, turun ke lapangan, analisis data dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya mempergunakan aspek-aspekkecenderungan, non perhitungan numerik, situasional deskriptif, interview mendalam, analisis isi, dst.
Serta untuk proses pengambilan datanya terdapat 4 cara yakni dengan survei atau observasi, wawancara, Focus Group Discussion, dokumentasi. Dalam pemilihan metode nantinya, yang menentukan adalah si peneliti sendiri, peneliti dapat memilih dan menyesuaikan kemampuan penggunaan kuantitatif ataupun kualitatif sendiri.

SARAN
Sebaiknya kita sebelum melakukan penelitian sosial harus memperhatikan tentang masalah yang akan di cari, persoalan apakah yang harus diselesaikan serta apakah masalah tersebut menarik untuk ditelusuri, pemerolehan sumber-sumber data yang dapat dijangkau serta bagaimana menyajikan data tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Black, James dan J. Champion, Dean. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung: PT Eresco. 1992.
Musianto, Lukas S. Perbedaan Pendekatan Kuantitatif dengan Pendekatan Kualitatif dalam Metode Penelitian. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 4, No. 2, September 2002: 123 – 136.
Hayati, Naila. Pemilihan Metode yang Tepat dalam Penelitian (Metode Kuantitatif dan Metode Kualitatif). Jurnal Tarbiyah Al-Awlad (4) 2, 345-357.
Modul CREAME (Critical Research Methodology. Tentang Riset. CIPG
Nawai, Hadari dan Martini H. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1992.
Syaepurohman, Purnama. dkk. Sosiologi Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta.
Sumanto. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset. 1995.
Winarno, dkk. Dimensi Metodologis Dalam Penelitian Sosial. Surabaya: Usaha Nasional. 1992.
http://dosensosiologi.com/pengertian-penelitian-kuantitatif-ciri-dan-jenisnya-lengkap/   diakses pada hari Senin 14 Mei 2018 pada pukul 19.45




Minggu, 13 Mei 2018

Makalah Teologi

Makalah Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi, Pembebasan Asghar Ali Engginer, Teologi Alam atau Ekologi

BAB I
PENDAHULAN
Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Seolah aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi idealnya orang Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Sang Revolusioner umat islam mengingatkan  oleh Rasulullah bahwa “ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Pemikiran yang berbeda merupakan penyebab saling menyalahkannya  antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang keluar agama Islam. Teologi Islam merupakan salah satu dari tiga pondasi Islam dan pemahamanya harus ada dalam diri manusia yang beriman. Sedangkan iman itu di nyatakan  pertama nutqun bil lisan (menyatakan keislam secaralisan) harus berlandaskan ilmu yang kuat yang di antaranya adalah ilmu kalam ini. Kedua, a’malu bil arkan(melaksanakan keislaman secara fisik) dengan berlandaskan ilmu yang hak di antaranya ilmu fiqh. Ketiga tashdiqu bil qolbi (membenarkan islam dengan hatinya). Harus berpangkkal dengan ilmu batin yang benar dan yang membenarkan adalah ilmu tasawuf. Dari itu, mempelajari ilmu teologi sangat penting karena dapat memberikan landasan kuat bagi kebenaran keyakina atau keberagamaan seseorang. Dalam hal ini menjadi kekuatan keimanan seseorang muslim.

Rumusan Masalah
Bagaimana pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi?
Bagaimana pemikiran Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer?
Apa Pengertian Teologi Alam atau Ekologi?
Tujuan
Mengetahui seperti apa pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi.
Mengetahui Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer.
Memahami Teologi Alam atau Ekologi.

BAB II
PEMBAHASAN
Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi
Biografi Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir di kota Kairo Mesir pada tanggal 13 Februari 1935. Ia menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1948. Kemudian ia melanjutkan studimya ke madrasah Khalil Agha, Kairo sampai pada tahun 1952. Di sekolah inilah ia mulai berkenalan dengan pemikir dan gerakan Ikhwanul Muslimin, dan ia semakin aktif dalam gerakan ini sewaktu kuliah di Universitas Cairo sampai gerakan tersebut dibubarkan.
Setelah mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang filsafat dari Universitas Cairo 1956, ia melanjutkan studinya di Doktorat d’etat, La Sorbonne Perancis dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1966. Sekembalinya dari Perancis pada tahun 1966, Hasan Hanafi segera ditugaskan mengajar mata kuliah filsafat di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Cairo Mesir.
Hasan Hanafi, disamping seorang pemikir keislaman, ia juga penulis yang produktif. Banyak karya karya tulisan yang dihasilkannya dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Perancis yang dikuasainya. Selain menghasilkan tulisan-tulisannya juga banyak artikel di beberapa ilmiah berbahasa Arab, mentahqiq teks teks klasik Arab dan menerjemahkan beberapa buku tentangadama dan filsafat dalam bahsa Arab.
Teologi Islam
Teologi dalam Islam atau teologi islam yang biasa juga disebut ushuluddin, akidah, atau tauhid, merupakan penegasan bahwa Tuhan itu satu, menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dengan tujuan menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Tujuan penciptaan manusia mencakup tugas manusia sebagai wakil Tuhan di bumi dalam segala aspeknya.
Dalam hubungan keluarga misalnya, tauhid merupakan pegangan hidup. Keluarga merupakan bagian dari unit ummah universal. Ia berada ditengah tengah antara unit kecil individu pada satu sisi dan unit ummah pada sisi lain. Tata hubungan unit keluarga telah ditekankan oleh al Qur’an. Islam tidak mengutuk seks; ia menganggap suci, penting dan baik bahkan menganjurkan laki-laki dan perempuan memenuhi kebutuhan seksual (QS. Albaqaroh). Akan tetapi, Islam tidak menganggap seks sebagai statusnya tujuan perkawinan semata-mata, melainkan sebagai mengabdi kepada-Nya.
Selanjutnya dalam tata ekonomi, menjadi perhatian yang tak terpisahkan dari tauhid. Al-Faruqi mengatakan “tindakan ekonomi merupakan ungkapan spiritualitas Islam. Oleh karena itu, ekonomi ummah, kesehatan dan lain sebagainya merupakan esensi Islam.Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan. Dalam pandangan Islam, tauhid merupakan prinsip pengetahuan. Tauhid adalah pengakuan bahwa Alloh adalah hak (kebenaran), ada, dan Esa. Pengakuan seperti ini berimplikasi pada keyakinan bahwasemua keraguan bisa disampaikan kepada Nya dan bahwa tidak ada pernyataan yang tidak boleh diuji, yang tidak boleh dinilai secara pasti. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran dapat diketahui dan manusia mampu mencapainya. Itulah tauhid sebagai prinsip pengetahuan. Memperoleh pengetahuan dengan cara yang benar adalah salah satu tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagai sarana mengabdi kepada-Nya.
Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
Konsep teologi Humanis Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) sebagai jawaban atas pertanyaan yang aku pikirkan?.
Yang pertama, bagaimana proses epistemologi itu diperoleh. Untuk mendapatkan pengetahuan Hasan Hanafi memulainya dengan menolak keberadaan ketidaktahuan (jahl), kebimbangan (wahm), dugaan (zan), keraguan (syak), inspirasi (ilham), dan taklid. Kemudian, ia berusaha membangun paradigma paradigma kognisi, yaitu : sense (his), rasio, dan mutawatir. Dengan demikian epistemologi berangkat dari kognisi historis. Gambaran epistemologi tersebut merupakan kognisi umum manusia yang banyak diambil sebagai sumber ketetapan, seperti yang ditetapkannya dalam tradisi tradisi, hikmah hikmah, dan perumpamaan perumpamaan yang kemudian direalisasikan kepada manusia.
Kedua, “apa yang aku ketahui”. Tentang ontologi, Hasan Hanafi menjelaskannya melalui cara asasi, didasarkan pada pemikiran tentang yang diketahui (al ma’lum), yaitu eksistensi eksternal untuk analogi terhadap benda lain. Eksistensi mempunyai makna dan setiap benda mempunyai implikasi tekstual (dalalah). Eksistensi merupakan sesuatu yang baru yang baru atau mungkin yang memiliki kontekstual (maknawy). Premis kedua tentang ontologi ini mengisyarakatkan untuk mengetahui kandungan makna hukumhukum alam agar manusia menjalankan manfaatnya.
Ketiga mengenai masalah “apa yang aku pikirkan”. Dalam kaitan aksiologi (teori nilai), Hasan Hanafi memberikan gambaran tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Oleh karena nilai nilai itu adalah kemanusiaan murni, maka ia mengekspresikan tuntutan manusia sebagai jawaban atas pertanyaan, “apa yang aku pikirkan?” yang dipikirkan adalah kebenaran, karena ia tuntutan kemanusiaan, kebaikan karena ia kecenderungan kemanusiaan dan keindahan karena ia perasaan kemanusiaan. Maka dari itu, objek tauhid menurutnya merupakan objek-objek kemanusiaan yang dipandang sebagai ekspresi dari ketiga nilai tersebut dalam bentuk khusus.
Dengan memperhatikan penjelasan premis ketiga diatas, tampak bahwa bangunan konsep teologi Humanis Hasan Hnanafi berangkat dari dan untuk manusia. Untuk memperkokoh bangungan teologi tersebut ia menggunakan dua pilar utama, masing masing dari kedua pilar tersebut memiliki beberapa aspek. Pilar pertama meliputi keharusan merumuskan ideologi yang memiliki identitas yang jelas ditengah tengah pergumulan ideologi ideologi kontemporer yang berpijak diatas realitas. Kecuali itu, diperlukan analisa psikologi masyarakat sehingga dapat mengenal faktor faktor yang bisa mendorong perilaku manusia. Kedua pandangan ini berujung pada keharusan merumuskan kembali formulasi ushuluddin dan cabangcabang ilmunya.  Selain daripada itu, juga diperlukan formulasi baru tentang ilmu ushuluddin yang tidak memfokuskan persoalanpersoalan teoritis semata, melainkan lebih memfokuskan kepada persoalan praktis, seperti gerakan sejarah setelah proses penyadaran masyarakat.
Pilar kedua sebagai langkah menyempurnakan bangunan teologi, dimana menurut Hasan Hanafi terdiri dari beberapa aspek seperti kebebasan dan toleransi.
Konsep Kebebasan
Kebebasan merupakan salah satu aspek yang penting dalam konsep teologi Antroposentris Hasan Hanafi. Kebebasan disini adalah bebas tidak terikat dengan atribut atribut keimanan. Kebebasan menurutnya, merupakan kebutuhan mendasar manusia, oleh karena itu kegiatan kemanusiaan dapat terbagi dalam dua hal: kebebasan akal dan kerja keras. Semua kegiatan manusia akan berjalan apabila kebebasan telah ditetapkan sebagai ketetapan cara berpikir dan bekerja. Tanpa adanya kebebasan, maka keberhasilan sulit untuk diraih.
Konsep Toleransi
Toleransi atau solidaritas kemanusiaan, bagi Hasan Hanafi merupakan salah satu isu humanisme yang perlu disebarluaskan. Menurutnya, toleransi merupakan petunjuk bagi kegiatan sosial sebagai manifestasi dari kesatuan. Oleh karena  itu, secara epistemologi toleransi bisa dilaksanakan, tidak hanya dalam teori tapi juga dalam praktik, sebagai undang-undang universal tentang etika. Untuk kesatuan, ia menawarkan sikap toleransi dan dialog sebagaimana dipahami umum yang berangkat dari etika universal. Dialog merupakan cara yang dapat menyelesaikan maslah-masalah Mesir sekarang dan masa yang akan datang. Maka, semua unsur gerakan yang ada hendaknya meninggalkan kepentingannya yang terbatas dan mengutamakan kepentingan nasional.
Aplikasi Teologi Antroposentris
Dalam agenda pembaharuan Hasan Hanafi, teologi Antroposentris merupakan roh yang menjiwai. Pembaharuan yang berjiwakan teologi Antroposentris ini diharapkan meraih sukses besar. Adapun program pembaharuan Hasan Hanafi, dapat diklasifikasikan menjadi tiga agenda. Pertama, pembaharuan pemikiran atau usaha untuk merekontruksi tradisi yang sudah usang menjadi suatu konstruk pemikiran Islam yang sangat sesuai dengan perkembangan zaman.Kedua, melawan superioritas peradaban Barat. Menurutnya, peradaban Barat harus dikembalikan pada tingkat kewajaran. Barat yang selama ini dikesankan oleh umum sebagai peradaban yang super berkat keberhasilan studi-studi mereka, kini harus dipelajari menurut versi lain di luar Barat, dengan tujuan untuk membatasi bahwa Barat adalah segala galanya. Ia mengingatkan kaum Muslim akan bahaya imperialisme kultural Barat. Untuk melawan kultur Barat, secara khusus ia menulis oksidentalisme yang dimaksudkan sebagai cara orang timur mempelajari Barat dan upaya melawan serta langkah-langkah mengikis habis peradaban Barat.
Ketiga, menafsirkan kembali serta merekontruksi realitas kebudayaan manusiadalam skala global. Dalam realitas sosial, umat Islam dimungkinkan untuk menafsirkan teks dalam rangka merespon perkembangan zaman. Hasan Hanafi mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks dan mengusulkan metode heremeneutika untuk menerangkan wahyu Tuhan, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri.
2. Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer
Riwayat  Singkat  Asghar  Ali  Engginer
Engineer dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1939 di Rajasthan di daratan India, dalam sebuah keluarga yang berafiliasi kepada paham Syiah Ismailiyah4. Engineer lahir dari keluarga santri, Dia belajar bahasa Arab dari ayahnya, syekh Qurban Husin dan mendapatkan pendidikan sekuler hingga memperoleh gelar sarjana teknik sipil dari Unversitas of Indore. Dalam perjalanan hidupnya Engineer sendiri pernah menjadi pemimpin komunitas Syiah Ismailiyah Bohra yang cukup terkenal di India. Di samping itu, Engineer pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Komunitas Daudi Bohras (1977), pendiri Institut of Islamic Studies di Mumbai (1980), dan ikut mendirikan Center for the Study of Society and Secularism (1993).
Untuk lebih memahami latar belakang keagamaan Engineer, ada baiknya diketahui sepintas tentang kelompok Daudi Bohras ini. Para pengikut Daudi Bohras dipimpin oleh Imam sebagai pengganti Nabi yang dijuluki Amir al-Mukminin. Mereka mengenal 21 orang Imam. Imam mereka yang terakhir adalah Mawlana Abu al-Qasim al-Thayyib yang menghilang pada tahun 526 H. Akan tetapi mereka masih percaya bahwa ia masih hidup hingga sekarang. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Dai (berasal dari ungkapan Daudi) yang selalu berhubungan dengan Imam terakhir itu. Untuk diakui sebagai Dai tidaklah mudah. Ia harus mempunyai 94 kualifikasi yang disimpulkan menjadi 4 kualifikasi, yaitu, pendidikan, administrasi, moral dan teoritikal, keluarga dan kepribadian. Yang menarik bahwa di antara kualifikasi itu seorang Dai harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Untuk itu Engineer diakui sebagai seorang Dai.
Engineer yang diakui sebagai Dai, juga sebagai seorang ilmuan terkenal yang menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Urdu, Arda, Persia, Gujarat, Hindu dan Marathi. Dan dia banyak memberikan kuliah di berbagai universitas terkenal, seperti di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Srilangka, Pakistan, Yaman, Mesir dan Hongkong.7 Pada bulan Agustus tahun 2008, Engineer pernah berkunjung ke Indonesia, dan menyampaikan ceramah tentang Islam dan Negara Bangsa, serta bertemu dengan sejumlah cendekiawan Islam Indonesia, antara lain mantan presiden Abdurrahman Wahid.
Djohan Effendi tampak sangat tertarik terhadap pemikiran Engineer, menurut Djohan, Engineer adalah seorang mukmin sejati bukanlah sekedar orang yang percaya kepada Allah akan tetapi juga ia seorang mujahid yang berjuang menegakkan keadilan, melawan kezaliman dan penindasan.
Sebagai seorang pemikir, Engineer telah menerbitkan puluhan buku dengan berbagai tema. Di antara karya-karya tersebut antara lain: Islam and Its Relevance to Our Age, The Oringin and Development of Islam, Islam and Muslims: Critical Perspectives, The Bohras, The Islamic State, Islam and Liberation Theology, On Developing Liberation Theology in Islam, Islam in South-East Asia, Seminar on Sufism and Communal Harmony, The Spirituality of Social Movement, Rights of Women in Islam, Communalism and Communal Violence in India, Ethnic Problem in South Asia, The Quran, dan Women and Modern Society. Selain itu Engineer juga menulis beberapa artikel beberapa surat kabar terkemuka di India, seperti Times of India, Indian Express, The Hindu Daily, Telegraph, dan Indian Jurnal of Secularism.
Di luar aktivitas intelektual, Engineer adalah seorang aktivis sosial, di antara jabatan penting yang dipercayakan kepadanya, antara lain: Wakil Presiden pada Peoples Union for Civil Liberties, Pemimpin Rikas Adhyayan Kendra (Centre for Development Studies), Pemimpin EKTA, (Committee for Communal Harmony), Ketua pendiri pada Centre for Study of Society and Secularism, Mantan Dewan Eksekutif Universitas of Jawaharlal New Selhi, dan Sekretaris Umum pada Central Board of Dewood di Bohra Community and Cenvenor Asian Muslim Action Network (AMAN).11 Dan tercatat pula Engineer pernah memberikan kuliah di Universitas berbagai Negara seperti Amerika, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, Pakistan, Yaman, Hongkong, dan Mesir.
Karena pemikiran dan aktivitas sosialnya Engineer memperoleh beberapa penghargaan, antara lain: Gelar kehormatan D.Lit. dari Universitas Calcuta, National Communal Harmony Award dari National Foundation for Communal Harmony, Harmony Award dari New Leaders Commitee, Chennai, dan Hakim Khan Sur Award dari Maharana Mewar Foundation, Udaipur, Rajasthan.
Adapun metode pemikiran Engineer bersifat normatif kontekstual dan transendental. Bersifat normatif, karena dia selalu mendasarkan pada ayat-ayat al-Quran sebagai sumber rujukan terhadap kasus-kasus sosial politik maupun teologi. Sedangkan kontekstual dimaksudkan untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama yang bersifat normatif yang belum mengenal waktu dan tempat ke dalam sosio kultural yang ada, yaitu dengan cara membaca kondisi sosio masyarakat yang berlaku. Adapun yang bersifat transendental, karena ayat-ayat tersebut memerlukan pengetahuan yang cukup mendalam dan memahami antara teks dengan konteksnya.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.

b. Pemikiran Engginer tentang teologi kebebasan
Dalam sebuah artikel yang berjudul What I Belive (Mumbay: 1999), Engineer mengemukakan tiga pokok persoalan yang mendasari pemikiranpemikirannya. Pertama, mengenai hubungan antara akal dan wahyu yang saling menunjang. Kedua, mengenai pluralitas dan diversitas agama sebagai keniscayaan. Ketiga, mengenai watak keberagamaan yang tercermin dalam sensitivitas dan simpati terhadap penderitaan kelompok masyarakat lemah.
Pokok-pokok pemikiran di atas inilah yang melandasi Engineer dalam mengkonstruksi teologi pembebasan dalam Islam sebagaimana yang ia tunjukkan dalam bukunya Islam and Liberation Theology (1990). Menurut Engineer, teologi klasik cenderung kepada masalah-masalah yang abstrak dan elitis, berbeda dengan teologi pembebasan lebih cenderung kepada hal-hal yang konkret dan historis, dimana tekanannya ditujukkan kepada realitas kekinian, bukan realitas di alam maya. Bagi Engineer, teologi itu tidak hanya bersifat transendental, tetapi juga kontekstual. Teologi yang hanya berkutat pada wilayah metafisik akan tercerabut dari akar sosialnya. Baginya, teologi adalah refleksi dari kondisi sosial yang ada, dan dengan demikian suatu teologi adalah dikonstruksi secara sosial. Lebih lanjut
menurut Engineer tidak ada teologi yang bersifat eternal yang selalu cocok dalam setiap kurun waktu dan sejarah.
Menurut Engineer, pandangan teologi itu juga tidak netral. Ia mempunyai keberpihakan, apakah kepada status quo atau kepada perubahan. Dengan kata lain, teologi itu dapat menjadi instrument pembebas atau pembelenggu manusia. Semua itu tergantung kepada siapa yang mengkonstruksi dan menggunakannya. Keberpihakan teologi pembebasan sangat jelas, yaitu kepada mereka yang lemah dan tertindas. Ia diproyeksikan untuk perubahan, bukan untuk mengabdi kepada
kekuasaan dan status quo.
Jadi teologi pembebasan yang dipelopori Engineer ini merupakan usulan kreatif yang mengaitkan antara pentingnya paradigma baru dalam teologi yang memerangi penindasan dalam struktur sosio-ekonomi. Paradigma ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena arogansi kekuasaan, ketidak adilan, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi kulit, bangsa atau jenis kelamin, penumpukan kekayaan dan pemusatan kekuasaan dalam realitas masyarakat kontemporer.
Lebih lanjut menurut Engineer, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sebagai pendorong revolusi sosial yang memerangi struktur yang menindas. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality) dan keadilan sosial (social justice).22 Oleh sebab itu teologi pembebasan dilatarbelakangi oleh masalah sosio-ekonomi, dan juga membicarakan masalah psiko-sosial. Struktur sosial saat ini sangat menindas dan harus diubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, optimis, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan keyakinan yang kuat. Sebab secara psikologis, masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang menindas akan cenderung frustrasi, pesimis, suka jalan pintas, dan lemah keyakinan. Kondisi psikis semacam ini harus diatasi dengan munculnya keyakinan teologis yang kuat agar mendorong mereka untuk giat mengubah nasibnya sendiri tanpa rasa frustrasi, dan menjadikan sumber motivasi kaum tertindas untuk mengubah keadaan mereka dan menjadikan kekuatan spiritual untuk mengomunikasikan dirinya secara berarti dengan memahami aspek-aspek spiritual yang lebih tinggi.
Untuk itulah, teologi pembebasan sangat menekankan pada aspek praksis, yaitu kombinasi antara refleksi dan aksi, iman dan amal. Ia merupakan produk pemikiran yang diikuti dengan praksis untuk pembebasan. Jadi teologi pembebasan berupaya untuk menjadikan mereka yang lemah dan tertindas menjadi makhluk yang independen dan aktif. Karena hanya dengan menjadikan manusia yang aktif dan merdeka mereka dapat melepaskan diri dari belenggu penindasan.
Sumber inspirasi teologi pembebasan menurut Enginer adalah al- Quran dan sejarah para rasul dan nabi Allah. Keberpihakan kedua sumber ini kepada kaum lemah tidak diragukan lagi. Al-Quran dengan jelas mengajarkan untuk menyatuni anak-anak yatim, orang-orang lemah, menegakkan keadilan, dan menekankan agar kapital itu tidak hanya berputar- putar disegelitir orang. Penekanan demikian persis yang dipraktekkan oleh para rasul dan nabi Allah.
Dalam pandangan Engineer, para sejarawan membuktikan bahwa nabi Muhammad sebagai utusan Allah menggulirkan tantangan yang membahayakan saudagar-saudagar kaya suku Quraisy, yang berasal dari suku yang berkuasa di Mekah. Penolakan masyarakat Quraisy terhadap dakwah nabi Muhammad, menurut Engineer lebih dikarenakan faktor ekonomi daripada faktor agama. Masyarakat Quraisy yang menentang takut jika hegemoni ekonomi yang ada di genggaman mereka terganggu. Mereka menyombongkan diri dan mabuk dengan kekuasaan, melanggar normanorma kesukuan, dan tidak menghargai fakir miskin.27 Mengikuti pemikir Mesir Taha Husein, Engineer mengatakan bahwa jika nabi Muhammad hanya mendakwahkan Islam tentang keesaan Tuhan, tanpa menyerang sistem sosial-ekonomi, mengabaikan perbedaan antara yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, tuan dan budak serta tidak mendesak para konglomerat Mekah untuk mendistribusikan sebagian kekayaan mereka kepada kaum lemah dan fakir miskin, maka mayoritas masyarakat Quraisy akan menerima kehadiran Islam yang di dakwahkan oleh nabi Muhammad saw. pada saat itu.
Dalam semangat teologi pembebasan ini, Engineer mentransformasikan tiga konsep kerangka praksis teologi pembebasan, yaitu: Pertama, konsep tauhid. Bagi Engineer, tauhid tidak hanya mengacu pada keesaan Allah, namun juga pada kesatuan manusia (unity af mankind). Kesatuan bukan saja mengenai perkara akidah, tetapi adalah kesatuan dalam keadilan yang melintasi batas-batas keyakinan. Untuk itulah, dalam masyarakat tauhidi, tidak akan membenarkan dikriminasi, baik dalam bentuk ras, agama, kasta ataupun kelas sosial, sebab pembagian kelas, secara tidak langsung, menegaskan dominasi yang kuat atas yang lemah, kelas yang satu menindas yang lain, ketidakadilan, tirani, dan penindasan. Dominasi inilah yang menghalangi upaya pembentukan masyarakat yang adil. Lebih lanjut menurut Engineer, persoalan penindasan itu bukanlah persoalan antar pemeluk agama, akan tetapi lebih merupakan persoalan persoalan antara penindas dengan yang tertindas. Sosok penindas dan yang ditindas itu bisa berasal dari agama manapun, ras apapun dan suku manapun. Dengan demikian, tauhid itu tidak hanya berdimensi sosialekonomi. Kafir tidak hanya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga termasuk mereka yang melawan segala usaha yang sungguh-sungguh untuk menata ulang struktur masyarakat agar lebih adil dan egaliter, tidak ada konsentrasi kekayaan di segelintir orang, serta tidak ada eksploitasi manusia atas manusia yang lain.30 Konsep tauhid inilah menurut Engineer yang sangat dekat dengan semangat al-Quran untuk menciptakan keadilan dan kebajikan (al-adl wa al-ihsân).
Kedua, konsep iman. Menurut Engineer kata iman berasal dari kata amn yang berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Untuk itu, iman tidak hanya soal kepercayaan kepada Allah, tetapi orang yang beriman harus dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan menyakini nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Iman kepada Allah akan mengantarkan manusia pada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Jadi iman tidak hanya berkutat pada wilayah keyakinan an sich, tetapi juga mengandung dimensi sosiologis dan ekonomis. Lebih lanjut menurut Engineer, orang kafir (kufr), adalah orang yang tidak hanya menampik eksistensi Allah, tetapi juga yang menantang usaha-usaha jujur untuk membentuk masyarakat, menghapus akumulasi dalam segala bentuknya. Seseorang yang secara formal beriman kepada Allah, tetapi memperturutkan hawa nafsu dengan menimbun kekayaan dengan menindas orang lain, dan gemar melakukan konsumtif yang menyolok mata, sementara yang lain menderita kelaparan, juga termasuk kafir (kufr). tegas Engineer.
Ketiga, konsep jihad. Jihad makna literernya perjuangan. Teologi pembebasan memaknai jihad sebagai perjuangan menghapus eksploitasi, korupsi, dan berbagai bentuk kezaliman. Perjuangan yang harus dilakukan secara dinamis dan istiqamah, agar kelaliman yang dilakukan manusia sirna dari muka bumi. Untuk itu teologi pembebasan tidak memaknai jihad sebagai perang militer, tetapi aktivitas dinamis progresif untuk melakukan pembebasan masyarakat dari realitas penindasan yang menimpa mereka. Jihad untuk pembebasan, bukan jihad untuk berperang (aggression). Dengan demikian, menurut Engineer struktur sosial yang sangat menindas harus dirubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguhsungguh, yang sering kali meminta pengorbanan. Perjuangan tidak mudah, karena membutuhkan keyakinan, optimisme dan kesabaran yang luar biasa. Sebab keyakinan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. Jadi kesabaran dimaksud adalah kesabaran yang ditujukkan selama mengadakan perjuangan untuk menciptakan perubahan sosial, merupakan sebuah senjata psikologis yang sangat kuat dalam menghadapi segala kesulitan.
E.  Teologi Alam atau Ekologi
Ekologi dalam bahasa Inggris ditulis “ecology” diambil dari bahasa Yunani dari kata “oikos” dan “logos”. Oikos berarti tempat tinggal dan logos berarti ilmu. Ekologi merupakan cabang dari biologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme dan hubungan antara organisme-organisme itu dengan lingkungannya.
Dalam pengertian yang lebih luas, oikos tidak dipahami hanya sekedar tempat tinggal manusia. Oikos juga dipahami sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya diantara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. Dengan demikian, oikos bermakna rumah bagi semua maakhluk hidup yang sekaligus menggambarkan interaksi keadaan seluruhnya yang berlangsung di dalamnya.
Dalam bahasa Arab, ekologi dikenal dengan istilah ‘ilm al-bī ‘ ah. Secara etimologi, kata bī ‘ ah diambil dari kata kerja (fi’il) bawa’a yang terdiri dari huruf bā-wau-hamzah yang memiliki arti tinggal, berhenti, dan menetap. Bentuk isim (masdar) dari kata bawa’a ini adalah al-bī ‘ ah yang berarti rumah atau tempat tinggal.
Dari uraian di atas, definisi ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.
Teologi dalam khazanah Islam, dipadankan dengan “ilmu kalam”. Penggunaan istilah ini setidaknya didasarkan pada asumsi bahwa keduanya mengarahkan pembahasannya pada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Sebutan lain untuk ilmu kalam adalah ilmu ‘Aqā ‘ id (ilmu aqidah-aqidah, yakni simpul-simpul kepercayaan), ilmu Tauhid (ilmu tentang kemaha Esaan Allah), dan ilmu Usuluddin (ilmu pokok-pokok agama).
Dengan memaknai teologi sebagai the intellectual expresion of religion, maka teologi menjadi lebih luas pengertiannya dan relevan untuk merespon berbagai tantangan kontemporer yang senaantiasa hadir setiap waktu. Pembahasan mengenai persoalan kemanusiaan dan alam yang ditinjau dari perspektif teologis menjadi sebuah kebutuhan sekaligis keniscayaan untuk masa kini.
Dalam pengertiaan teologi tersebut di atas, muncul kajian baru dalam studi agama (Islam) yang berhubungan dengan ekologi, yang disebut teologi lingkungan Islam atau eko-teologi. Eko-teologi merupakan teologi kreatif dan produktif dari dinamika teologi dalam studi Islam.
Dalam ajaran Islam, eko-teologi dapat dipahami sebagai konsep keyakinan agama yang berkaitan dengan persoalan lingkungan yang didasarkan pada ajaran agama Islam. Rumusan teologi dapat digunakan sebagai panduan teologis berwawasan lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
Melalui eko-teologi, dapat dipahami hubungan harmonis antara Tuhan alam dan manusia. Lebih jauh dapat dijelaskan, hubungan antara Tuhan, alam dan manusia mengacu pada hubungan sistemik, yaitu Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam raya, Tuhan sebagai pemilik manusia serta alam raya sekaligus secara fungsional Tuhan sebagai pemelihara manusia dan alam raya.
Ada seorang tokoh bernama Bardiuzzaman Said Nursi dia adalah seorang ulama dan pejuang yang lahir di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Beliau lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang taat terhadap ajaran agama. Beliau adalah salah satu tokoh yang menjelaskan hubungan ontologis antara Tuhan dengan alam, beliau menguraikan hakikat alam sebagai berikut:
Pertama; alam semesta merupakan buku. Membaca dan memahami buku alam sama seperti dia membaca Al-Qur’an yang merupakan kitab yang diwahyukan oleh Allah. Bagi Nursi, alam semesta merupakan sebuah buku besar sedangkan Al-Qur’an adalah tafsir atau penjelasnya.
Kedua;karena alam merupakan buku yang diciptakan oleh Allah, ia bukanlah buku biasa. Alam semesta adalah maha karya seni yang sangat indah, agung dan hebat. Dengan demikian, buku ini sangat penuh dengan makna. Nursi merumuskan dalam bahasa yang singkat “Alam adalah sebuah maha karya seni yang sangat indah. Karena alam itu sebuah maha karya, ia tak bisa menjadi pencipta maha karya seni.”
Ketiga; alam semesta adalah cermin yang merefleksikan keindahan nama-nama Tuhan. Dalam bahasa yang lugas, Nursi menulis: “Alam semesta adalah cermin. Begitu juga halnya hakikat setiap makhluk, merupakan cermin.” Dengan demikian, alam yang merefleksikan keindahan nama Tuhan pada dasarnya memiliki makna dan dimensi sakral pada dirinya sendiri.
Keempat; seluruh makhluk hidup tidak bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan kehendaknya, melainkan ia telah berada dalam tatanan serta keteraturan yang salin terkait satu sama lainnya sebagaimana yang telah ditetatapkan Tuhan. Alam semesta mengetahui keberadaan Tuhan dengan baik melalui aspek ini.
Kelima; hubungan antara alam eksternal (zahir) dengan alam yang tersembunyi (batin) pada dasarnya sangat nyata. Namun hal itu tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Hanya mata kekasih Tuhan yang mampu melihatnya.
Uraian tersebut di atas menjelaskan bahwa alam semesta memiliki kesucian serta dimensi sakrral. Oleh karena itu, siapapun sangat dilarang merusak alam. Pemahaman oleh Nursi, menurut Davud Ayduz, merupakan landasan metafisik dari Islamic Environmentalisme, dimana seorang muslim akan selalu bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Siapapun yang melawan pandangan tersebut, sesungguhnya ia telah menentang Tuhan.
Persoalan penting lainnya dalam gagasan ekoteologi Nursi adalah pandangannya tentang manusia. Refleksi mengenai hakikat manusia dalam konteks ekologis sangat penting diuraikan mengingat konsepsi manusia sering kali disalahartikan. Manusia selama ini dipahami sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan alam semesta. Karena khalifah lebih tinggi sedangkan alam semesta lebih rendah, maka manusia seolah-olah memiliki legitimasi teologi untuk mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan manusia tanpa batas.  Nursi menjelaskan hakikat manusia sebagai manifestasi (tajalli) atau cermin dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sekalogus khalifah-Nya di muka bumi. Selanjutnya, manifestasi nama-nama Allah dalam diri manusia dapat dilihat dalam tiga hal penting sebagai berikut:
Pertama, sebagaimana kegelapan malam menunjukkan adanya cahaya, semua manusia melalui kelemahan, ketidakberdayaan, kefakiran, kemiskinan, kekurangan, dan segala cacatnya menunjukkan adanya kekuatan, keperkasaan, kekayaan, kemuliaan, kecukupan serta kesempurnaan Allah. Melalui lisan Allah dengan panggilan al-Qadir wa al-Qahhar. Lewat bahasa kefakiran dan kemiskinan, secara alami kita selalu memanggil Allah dengan panggilan al-Razzaq wa al-Ghaniyy. Dan begitulah seterusnya, dengan segala sifat-sifat kekurangannya, manusia selalu bergantung kepada Allah yang maha sempurna.
Kedua, manusia memiliko potensi-potensi seperti kekuatan, kemampuan, kekuasaan, pemilikan, pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan juga pemikiran. Semua itu pada hakikatnya bersumber dari Allah yang maha kuat, maha kuasa, maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui, dan maha memiliki segala-galanya. Semua potensi manusia merupakan manifestasi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Ketiga, potensi manusia bukan hanya bersifat teoritis, melainkan juga berada dalam tataran praktis, bukan cuma dalam tataran subjektif tetapi juga objektif, tidak saja secara normatif bahkan pula secara empirik. Dalam bahasa tasawuf, hal ini dinamakan tahaqquq, yakni merealisasikan siffat-sifat mulia sang Pencipta pada tataran faktual-empiris. Di sini seorang manusia benar-benar mencintai Allah dan Dia pun mencintainya, sehingga dia akan memberikan secercah kehebatannya terhadap manusia tersebut.
Melalui uraian di atas, Nursi ingin menjelaskan bahwa posisi khalifah yang diberikan kepada manusia merupakan kepercayaan dan kehormatan yang telah diberikan Allah. Namun, sebagian manusia menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan cara merusak tatanan alam dan keseimbangan ekologis yang telah diciptakan Allah. Tak sedikit, kerusakan di daratan dan di lautan begitu mudah ditemukan.
Dengan demikian, kekhalifahan bukanlah legitimasi teologis untuk mengeruk dan mengeksploitasi alam sebanyak-banyaknya, melainkan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan hal itu, Nursi sebagaimana dikutip Abdul Azis Barghuth menyatakan bahwa kekhalifahan memiliki empat prinsip utama, yaitu; pertama, prinsip keesaan Tuhan; kedua, prinsip kosmik yang menuntut manusia sebagai khalifah untuk senantiasa merenungkan posisinya di alam semesta dan bertindak sesuai dengan porsi dan posisinya; ketiga, prinsip peradaban dimana manusia dituntut untuk senantiasa membangun keseimbangan antara kekuatan personal sekaligus sosial dan kultural, kekuatan material sekaligus spiritual, kekuatan ilmiah sekaligus kultural, serta kesehatan jasmani sekaligus rohani; keempat, prinsip eskatologis yang menjelaskan tindakan manusia sebagai khalifah yang dilakukan selama hidupnya akan mendapatkan balasan di akhirat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.
ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.

DAFTAR PUSTAKA
Arroisi, Jarman. 2014. “Catatan atas Teologi Humanis Hasan Hanafi”. Jurnal Kalimah, Vol. 12 No. 2 : 173-193.
Jurnal Ilmu Ushuluddin, Teologi Pembebasan Dalam Islam : Telaah Pemikiran Asghar Ali Engineer. Vol.10, No.1, Januari 2011. ( Halaman 51-65 )
Ridwanuddin, Parid. 2017. “Ekologi dalam pemikiran Badiuzamman  Said Nursi”. Vol. 1 : 44-58

Makalah PERUBAHAN SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Perubahan sosial merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan. Perubahan sudah, sedang, dan akan terus terjadi, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Sesuai dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat saat ini, perubahan  sosial sudah berlangsung sangat pesat, baik itu perubahan yang sengaja direncanakan oleh para Agent of change maupun perubahan yang tidak direncanakan. Terjadinya perubahan social di kalangan masyarakat adalah hal yang wajar yang dialami oleh seluruh masyarakat di dunia. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai kesepakatan sama dalam mengartikan proses perubahan sosial. Dalam perkembangannya pun para ahli memperlihatkan perbedaan dalam memahami perubahan sosial. Menurut Thorsten Veblen, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi. Namun demikian, sulit untuk dibantahkan bahwa teknologi sangat memengaruhi sikap dan prilaku manusia. Namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi di masyarakat selalu berdampak positif, akan tetapi disisi lain pasti memiliki dampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dalam realitas kehidupan masyarakat disekitar kita. Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar.
Tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan, sebab kehidupan sosial adalah dinamis. Perubahan sosial merupakan bagian dari gejala kehidupan sosial, sehingga perubahan soaial merupakan gejala sosial yang normal. Perubahan sosial tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi, sebab perubahan ini mengakibatkan perubahan disektor-sektor lain. Ini berarti perubahan sosial selalu menjalar ke berbagai bidang-bidang lainnya. Perubahan sosial dapat dilihat dari system nilai yang pada suatu saat berlaku akan tetapi disaat yang lain tidak berlaku. Misalnya, dahulu kantor pos memegang peranan penting untuk mengantar surat sampai ke tempat tujuan, kini kantor pos mengalami penurunan fungsi sejak ditemukan telepon genggam yang bisa menyampaikan pesan berbicara ataupun pesan SMS dengan lebih cepat.
Perubahan sosial tidak berarti kemajuan, tetapi tidak pula kemunduran, meskipun meskipun dinamika sosial selalu diarahkan pada gejala transformasi (pergeseran). Perubahan sosial ada yang direncanakan, seperti program pembangunan, dan perubahan sosial yang tidak direncanakan, seperti bencana alam, dll.

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian dari perubahan sosial ?
Apa saja faktor yang menyebabkan perubahan sosial ?
Bagaimana teori yang muncul pada konsep perubahan sosial ?
TUJUAN
Megetahui pengertian dari perubahan sosial.
Mengetahui  faktor yang menyebabkan perubahan sosial.
Mengetahui teori yang muncul pada konsep perubahan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL
Para sosiolog dan antropolog telah banyak mempersoalkan mengenai pembatasan pengertian perubahan sosial dan kebudayaan. Dengan demikian, diinventarisasi rumusan-rumusan seperti dibawah ini.
Maciver
Perubahan-perubahan sosial dikatakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
Gillin dan Gillin
Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografi, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.
Selo Soemardjan
Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat.
Kingsley Davis
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.
FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL
Untuk mempelajari perubahan sosial, perlu diketahui terlebih dahulu sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Apabila diteliti lebih mendalam mengenai sebab terjadinya suatu perubahan mungkin dikarenakan adanya sesuatu yang dianggap tidak memuaskan. Mungkin saja perubahan terjadi karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah lebih dulu mengalami perubahan.
Pada umumnya diketahui faktor-faktor penyebab perubahan itu dapat berasal dari dari dalam masyarakat itu sendiri, namun dapat pula berasal dari luar masyarakat itu.
Faktor Internal
Bertambah dan berkurangnya penduduk
Pertambahan penduduk yang sangat cepat seperti di pulau Jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Misal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal.
Berkurangnya penduduk dapat disebabkan oleh berpindahya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah satu ke daerah lain seperti transmigrasi. Perpindahan penduduk dapat menyebabkan kekosongan pada daerah yang ditinggalkan serta mempengaruhi perubahan struktur masyarakat dan lembaga masyarakat.
Penemuan-penemuan baru
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan sosial dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat, ataupun ynag berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery baru menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu. Seringkali proses dari discovery menjadi invetion membutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta.
Didalam setiap masyarakat tentu ada individu yang sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakat. Di antara orang-orang tersebut banyak yang menerima kekurangan-kekurangan tersebut sebagai suatu hal yang harus diterima saja. Sedangkan ada individu yang tidak puas dengan keadaan, tetapi tidak mampu memperbaiki keadaan tersebut. Mereka inilah yang kemudian menjadi pencipta-pencipta baru. Keinginan akan kualitas juga merupakan pendorong bagi terciptanya penemuan-penemuan baru. Keinginan untuk mempertinggi kualitas suatu karya merupakan pendorong untuk meneliti kemungkinan-kemungkinan ciptaan baru.
Disamping penemuan-penemuan baru di bidang-bidang unsur jasmaniah, terdapat pula penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Misalnya ideologi baru, aliran baru, kepercayaan baru, sistem hukum yang baru dan seterusnya. Akan tetapi, yang terpenting adalah akibatnya terhadap lembaga –lembaga masyarakat, dan akibat lanjutnya pada bidang-bidang kehidupan lain. misalnya, dengan dikenalnya nasionalisme di Indonesia pada awal abad 20 melalui mereka yang pernah mengalami pendidikan barat , maka timbullah gerakan-gerakan yang menginginkan kemerdekaan politik yang kemudian menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang baru dikenal, yaitu partai politik.
Pertentangan (conflict) masyarakat
Pertentangan atau konflik masyarakat dapat mnyebabkan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Pertentangan mungkin terjadi antar individu atau antar kelompok. Umumnya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan individu walaupun diakui tetapi tidak mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menyebabkan perubahan sosial.
Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri
Revolusi yang meletus pada oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar bagi Negara Rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolut berubah menjadi diktator proletarian yang dilandaskan pada doktrin marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan mendasar. Revolusi yang menghasilkan perubahan sosial tidak hanya yang terjadi di Rusia saja, contoh lain adalah Revolusi Perancis yang tidak hanya menhasilkan perubahan sosial di negaranya, namun juga berdampak pada perubahan sosial di negara-negara lainnya yang ikut terdampak.
Faktor Eksternal
Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia
Terjadinya gempa bumu, angin topan, banjir besar, dan lain-lain dapat menyebabkan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru, mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam dari lingkungan baru mereka. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebagai contoh, bagi suatu masyarakat yang biasanya hidup dari berburu, kemudian menetap di suatu daerah pertanian, perpindahan itu akan melahirkan perubahan-perubahan dalam masyarakat tersebut, misalnya timbul lembaga kemasyarakatan baru yakni pertanian.
Sebab yang bersumber dari pada lingkungan alam fisik terkadang juga ditimbulkan oleh tindakan para warga masyarakat itu sendir. Misalnya, penggunaan tanah secara sembrono tanpa memperhitungkan kelestarian humus tanah, penebangan hutang tanpa memikirkan penanaman kembali, dan lain sebagainya.
Peperangan dengan negara lain
Peperangan dengan negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang akan memakskan kebudayaannya pada negara yang kalah. Contohnya, adalah negara yang kalah pada Perang Dunia Kedua banyak sekali yang mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatan. Negara-negara yang kalah dalam perang tersebut seperti Jerman dan Jepang mengalami perubahan besar dalam masyarakat.
Pengaruh kebudayaan masyarakat
Apabila sebab-sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain, itu dapat terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain.
Namun, apabila hubungan tersebut berjalan melalui alat-alat komunikasi masaa, ada kemungkinan pengaruh itu hanya datang dari satu pihak saja, yaitu masyarakat pengguna alat-alat komunikasi tersebut. Sementara itu, pihak tersebut hanya berkesempatan menerima pengaruh tanpa memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruh balik.
Di dalam pertemuan dua kebudayaan tidak selalu akan terjadi proses saling memnegaruhi. Kadangkala pertemuan dua kebudayaan semacam itu yang tidak seimbang keduanya justru akan saling menolak. Keadaan semacam ini itu dinamakan cultural animosity.
TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Ilmu sosiologi banyak dipengaruhi oleh beberapa ilmu pengetahuan lain baik itu biologi, geologi, dan banyak lagi. Oleh karena itu jangan heran kalau beberapa teori perubahan sosial yang akan dijelaskan menyebutkan beberapa pemikiran yang bukan orang sosiolog bahkan bukan orang dalam ilmu pengetahuan sosial. Hal ini tentu saja, seperti dijelaskan sebelumnya, perubahan sosial terjadi karena semua faktor yang ada dalam masyarakat baik dari dalam ataupun luar. Adapun faktor faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam seperti keadaan ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, agama dan lainnya lalu faktor dari luar seperti bencana.
Lalu ada berapa teori perubahan sosial yang harus anda ketahui? Berikut macam macam teori perubahan sosial dibawah ini:
Teori Evolusi (Evolutionary Theory) 
Teori evolusi sepertinya sudah dengan dari mata pelajaran ataupun mata kuliah Biologi. Memang benar, teori perubahan sosial yang satu ini bersumber dari pemikiran Darwin yang kemudian dipelajari oleh ahli sosiolog Herbert Spencer sebagai patokan dalam teori perubahan sosial yang kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim (keren namanya kan) dan Ferdinand Tonnies.
Dalam teori perubahan sosial ini dijelaskan bahwa evolusi memengaruhi cara pengorganisasi masyarakat, utamanya yang berhubungan dengan sistem kerja. Berdasarkan pandangan tersebut, Tonnnies berpendapat bahwa masyarakat berubah dari tingkat peradapan sederhana ke tingkat peradapan yang lebih kompleks. 
Dalam teori perubahan sosial evolusi dapa dilihat terjadinya transformasi dari masyarakat. Mulai dari masyarakat tradisional yang memiliki pola pola sosial komunal yaitu pembagian dalam masyarakat yang didasarkan oleh siapa yang lebih tua atau senioritas bukan pada prestasi personal individu dalam masyarakat. Kemudian hal tersebut berubah ke arah yang lebih kompleks. 
Dalam teori perubahan sosial ini, sudah tentu dipengaruhi oleh waktu. Oleh karena itu, teori ini terbagi atas dua yaitu perubahan secara lambat atau evolusioner  dan secara cepat atau revolusioner.
Pengertian perubahan secara lambat atau evolusioner adalah perubahan yang terjadi dalam interval waktu yang cukup lama dan disertai dengan perubahan perubahan kecil dan terjadinya pergeseran sosial secara perlahan dan jarang menimbulkan konflik dalam masyarakat dan lembaga. 
Dalam perubahan sosial secara lambatlah yang membagi  beberapa teori perubahan sosial menjadi:
Unilinier Theories of Evolution
Teori evolusi unilinear adalah teori yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat serta kebudayaannya akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tahapan tahapan tertentu dari bentuk kehidupan yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih komples. Teori perubahan sosial dikemukakan oleh beberapa ahli seperti August Comtee, Herbert Spencer, Vilfredo Pareto (Melakukan modifikasi menjadi teori siklus) dan Pitiim A. Sorokin. 
Sorokin sebagai pendukung teori perubahan sosial ini beranggapan bahwa masyarakat berkembang melalui tahap tahap yang masing masing didasarkan pada suatu kepercayaan sebagai tahap pertama; indera manusia sebagai tahap kedua; dan kebenaran sebagai tahap terakhir. Dalam teori ini, Spencer beranggapan bahwa tidak perlu melalui tahapan tertentu untuk masyarakat mengalami perubahan sosial, pasti terjadi. Dia menambahkan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan kelompok homogen ke kelompok heterogen baik sifat maupun susunannya.
Multilined Theories Of Evolution 
Teori perubahan sosial ini lebih menekankan pada ketidaksepakatan tentang teori evolusi non linear. Hal ini dikarenakan masyarakat yang mengalami perubahan sosial tidak dapat ditentukan mengalami kemajuan (dengan kata lain linear). Dalam teori ini dijelaskan bahwa masyarakat bisa saja mengalami perubahan sosial berupa kemunduran. Dengan munculnya teori ini, para ahli sepakat bahwa perubahan sosial yang terjadi tidak dapat disamakan proses suksesi pada biologi, yang akan selalu mengalami kemajuan akan tetapi bersifat naik turun. Oleh karena itu teori evolusi unilinear tidak lagi dipergunakan.
Teori Konflik (Conflict Theory)
Teori perubahan sosial ini dipengaruhi oleh pandangan beberapa ahli seperti Karl Marx, Frederict Engle, dan Ralf Dahrendorft. Dalam teori perubahan sosial ini tentu saja memandang konflik sebagai sumber terjadinya perubahan dalam masyarakat. 
Teori ini melihat masyarakat dua kelompok atau kelas yang saling berkonflik yaitu kelas borjuis dan kelas proletariat. Kedua kelompok sosial dalam masyarakat ini dapat dianggap sebagai majikan dan pembantunya. Penderitaan merupakan sumber utama konflik yang ada dalam masyarakat menurut teori ini. Dengan kepemilikan harta dan hak hidup yang lebih banyak oleh kaum borjuis dan minimnya bagi kaum proletariat akan memicu konflik sosial dalam masyarakat sehingga terjadi revolusi sosial yang berakibat pada terjadinya perubahan sosial. Berdasarkan teori perubahan sosial ini, dijelaskan bahwa pada akhir revolusi, akan tercipta masyarakat yang hidup tanpa pembagian kelas, sama rata (betul betul utopia [editor]). Ditambahkan juga bahwa perubahan sosial terjadi pada dasarnya disebabkan oleh adanya konflik, dan konflik akan selalu ada di sembarang waktu dan tempat.
Teori Perubahan Sosial Dahrendorft
Teori perubahan sosial oleh Dahrendortf berisi tentang hubungan stabilitas struktural sosial dan adanya perubahan sosial dalam masyarakat. Perubahan perubahan yang terjadi dalam struktur kelas sosial akan berakibat pada dua hal yaitu normatif ideologi atau nilai dan faktual institusional. Kepentingan dalam hal ini dapat menjadi nilai serta realitas dalam masyarakat. 
Sesuai dengan teori konflik, persamaan atau equality merupakan hak bagi setiap warga negara. Apabila ada kepentingan suatu kelompok untuk menekankan persamaan tersebut, maka akan terjadi dua hal atau dua skenario dalam masyarakat yaitu:
Nilai persamaan yang diinginkan akan diterima dan dihayati (ideologis) oleh sebagian penduduk, yang berarti penduduk akan semakin tergila gila dengan persamaan tersebut dengan kata lain bersifat normatif ideologis.
Persamaan yang diinginkan tersebut akan diwujudkan dalam pengaturan kelembagaan seperti JAMKESMA bagi warga negara Indonesia, dan BOS Pendidikan 12 Tahun dan lainnya dengan kata lain bersifat faktual institusional.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti yang dijelaskan dalam teori ini, dapat terjadi bersamaan dan dapat juga terjadi salah satunya terlebih dahulu. 
Dalam teori perubahan sosial lebih lanjut (jika anda ingin pelajari yang lebih silahkan cari bukunya) menjelaskan tentang hubungan antara perubahan sosial pengaruhnya terhadap mobilitas sosial, dimana berbagai perubahan sosial telah memengaruhi status dan peranan sosial seseorang ataupun sekelompok orang. 
Teori Fungsionalis
Teori perubahan sosial ini melihat ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi sosial yang berlaku saat itu menjadi penyebab dari perubahan sosial. Dalam teori ini, Ogburn menambahkan tentang adanya bagian dalam masyarakat yang tidak ikut berubah, atau statis. Dengan kata lain, tidak semua segi dalam masyarakat dan kebudayaannya berubah dalam perubahan sosial yang terjadi.
Dalam teori ini, Ogburn mengkritik kelompok masyarakat yang menganggap kelompok lain yang tidak mengikuti perubahan sosial yang sebagai ketimpangan kebudayaan ataupun kesenjangan. Contoh perbandingan antara masyarakat Kajang Pedalaman dan masyarakat Bulukumba bagian perkotaan. Tentu saja hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang memberikan “loncatan” pada budaya yang ada. Teori perubahan sosial ini beranggapan bahwa kelompok yang masih merasa nyaman dengan yang telah ada, tidak akan ikut berubah, dan kelompok yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat itu akan berubah.
Teori Siklus
Teori perubahan sosial ini menjelaskan tentang perubahan sosial yang bagaikan roda yang sedang berputar, artinya perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielak oleh manusia siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Bangkit dan mundurnya suatu peradapan merupakan bagian dari sifat alam yang tidak dapat dikembalikan. 
Teori ini diperkuat Ibnu Khaldun dalam bukunya yang terkenal sejagat “Muqadimah” (pembukaan paling tebal [Editor]) dan dan dijadikan sumber oleh Arnold Tonybee dalam mempelopori teori perubahan sosial ini.
Teori ini berhubungan dengan tantangan dan tanggapan. Apabila suatu masyarakat mampu memberikan tanggapan terhadap tantangan yang ada dalam peradapannya maka  masyarakat tersebut akan mengalami kemajuan. Akan tetapi, bila tidak mampu, maka akan terjadi kemunduran bahkan kehancuran. 
Teori Revolusi
Ini merupakan teori perubahan sosial yang terakhir dan tercepat. Seluruh masyarakat akan mengalaminya dan ikut berpartisipasi dalam peristiwa tersebut. Revolt merupakan asal katanya yaitu pemberontakan. Apabila sudah tidak ada kesesuaian dan kesepakatan antara masyarakat dan institusi yang ada (pemerintah) terhadap kondisi sosial dan struktur sosial maka skenario terburuk yang terjadi adalah pemberontakan atau revolusi.
Tentu saja, ada api maka ada asap. Syarat syarat terjadinya revolusi yaitu adanya keinginan untuk mengadakan perubahan dari mayoritas rakyat atau masyarakat yang ada. Kemudian adanya pemimpin yang siap mewadahi dan merumuskan perubahan sosial yang diharapkan. Selanjutnya yaitu waktu yang tepat untuk terjadinya revolusi, tentu saja perencanaan yang menyeluruh terhadap peristiwa revolusi.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Terjadinya perubahan social di kalangan masyarakat adalah hal yang wajar yang dialami oleh seluruh masyarakat di dunia. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai kesepakatan sama dalam mengartikan proses perubahan sosial. Dalam perkembangannya pun para ahli memperlihatkan perbedaan dalam memahami perubahan sosial. Menurut Thorsten Veblen, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi. Namun demikian, sulit untuk dibantahkan bahwa teknologi sangat memengaruhi sikap dan prilaku manusia. Namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi di masyarakat selalu berdampak positif, akan tetapi disisi lain pasti memiliki dampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dalam realitas kehidupan masyarakat disekitar kita. Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar.
terjadinya suatu perubahan mungkin dikarenakan adanya sesuatu yang dianggap tidak memuaskan. Mungkin saja perubahan terjadi karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah lebih dulu mengalami perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Anonim. 2015. “Pengertian Perubahan Sosial dan Teori Perubahan Sosial”. http://hariannetral.com/2015/09/pengertian-perubahan-sosial-dan-teori-perubahan-sosial.html. Di Unduh Pada Hari Kamis, 26 April 2018 Jam 16.39 WIB.

Makalah TEORI KEKUASAAN, POLITIK DAN EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN   Latar Belakang Manusia sebagai penguasa di muka bumi terlalu banyak jumlahnya hingga tidak terhitung oleh jari jemari...