Minggu, 13 Mei 2018

Makalah Teologi

Makalah Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi, Pembebasan Asghar Ali Engginer, Teologi Alam atau Ekologi

BAB I
PENDAHULAN
Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Seolah aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi idealnya orang Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Sang Revolusioner umat islam mengingatkan  oleh Rasulullah bahwa “ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Pemikiran yang berbeda merupakan penyebab saling menyalahkannya  antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang keluar agama Islam. Teologi Islam merupakan salah satu dari tiga pondasi Islam dan pemahamanya harus ada dalam diri manusia yang beriman. Sedangkan iman itu di nyatakan  pertama nutqun bil lisan (menyatakan keislam secaralisan) harus berlandaskan ilmu yang kuat yang di antaranya adalah ilmu kalam ini. Kedua, a’malu bil arkan(melaksanakan keislaman secara fisik) dengan berlandaskan ilmu yang hak di antaranya ilmu fiqh. Ketiga tashdiqu bil qolbi (membenarkan islam dengan hatinya). Harus berpangkkal dengan ilmu batin yang benar dan yang membenarkan adalah ilmu tasawuf. Dari itu, mempelajari ilmu teologi sangat penting karena dapat memberikan landasan kuat bagi kebenaran keyakina atau keberagamaan seseorang. Dalam hal ini menjadi kekuatan keimanan seseorang muslim.

Rumusan Masalah
Bagaimana pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi?
Bagaimana pemikiran Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer?
Apa Pengertian Teologi Alam atau Ekologi?
Tujuan
Mengetahui seperti apa pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi.
Mengetahui Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer.
Memahami Teologi Alam atau Ekologi.

BAB II
PEMBAHASAN
Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi
Biografi Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir di kota Kairo Mesir pada tanggal 13 Februari 1935. Ia menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1948. Kemudian ia melanjutkan studimya ke madrasah Khalil Agha, Kairo sampai pada tahun 1952. Di sekolah inilah ia mulai berkenalan dengan pemikir dan gerakan Ikhwanul Muslimin, dan ia semakin aktif dalam gerakan ini sewaktu kuliah di Universitas Cairo sampai gerakan tersebut dibubarkan.
Setelah mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang filsafat dari Universitas Cairo 1956, ia melanjutkan studinya di Doktorat d’etat, La Sorbonne Perancis dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1966. Sekembalinya dari Perancis pada tahun 1966, Hasan Hanafi segera ditugaskan mengajar mata kuliah filsafat di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Cairo Mesir.
Hasan Hanafi, disamping seorang pemikir keislaman, ia juga penulis yang produktif. Banyak karya karya tulisan yang dihasilkannya dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Perancis yang dikuasainya. Selain menghasilkan tulisan-tulisannya juga banyak artikel di beberapa ilmiah berbahasa Arab, mentahqiq teks teks klasik Arab dan menerjemahkan beberapa buku tentangadama dan filsafat dalam bahsa Arab.
Teologi Islam
Teologi dalam Islam atau teologi islam yang biasa juga disebut ushuluddin, akidah, atau tauhid, merupakan penegasan bahwa Tuhan itu satu, menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dengan tujuan menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Tujuan penciptaan manusia mencakup tugas manusia sebagai wakil Tuhan di bumi dalam segala aspeknya.
Dalam hubungan keluarga misalnya, tauhid merupakan pegangan hidup. Keluarga merupakan bagian dari unit ummah universal. Ia berada ditengah tengah antara unit kecil individu pada satu sisi dan unit ummah pada sisi lain. Tata hubungan unit keluarga telah ditekankan oleh al Qur’an. Islam tidak mengutuk seks; ia menganggap suci, penting dan baik bahkan menganjurkan laki-laki dan perempuan memenuhi kebutuhan seksual (QS. Albaqaroh). Akan tetapi, Islam tidak menganggap seks sebagai statusnya tujuan perkawinan semata-mata, melainkan sebagai mengabdi kepada-Nya.
Selanjutnya dalam tata ekonomi, menjadi perhatian yang tak terpisahkan dari tauhid. Al-Faruqi mengatakan “tindakan ekonomi merupakan ungkapan spiritualitas Islam. Oleh karena itu, ekonomi ummah, kesehatan dan lain sebagainya merupakan esensi Islam.Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan. Dalam pandangan Islam, tauhid merupakan prinsip pengetahuan. Tauhid adalah pengakuan bahwa Alloh adalah hak (kebenaran), ada, dan Esa. Pengakuan seperti ini berimplikasi pada keyakinan bahwasemua keraguan bisa disampaikan kepada Nya dan bahwa tidak ada pernyataan yang tidak boleh diuji, yang tidak boleh dinilai secara pasti. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran dapat diketahui dan manusia mampu mencapainya. Itulah tauhid sebagai prinsip pengetahuan. Memperoleh pengetahuan dengan cara yang benar adalah salah satu tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagai sarana mengabdi kepada-Nya.
Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
Konsep teologi Humanis Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) sebagai jawaban atas pertanyaan yang aku pikirkan?.
Yang pertama, bagaimana proses epistemologi itu diperoleh. Untuk mendapatkan pengetahuan Hasan Hanafi memulainya dengan menolak keberadaan ketidaktahuan (jahl), kebimbangan (wahm), dugaan (zan), keraguan (syak), inspirasi (ilham), dan taklid. Kemudian, ia berusaha membangun paradigma paradigma kognisi, yaitu : sense (his), rasio, dan mutawatir. Dengan demikian epistemologi berangkat dari kognisi historis. Gambaran epistemologi tersebut merupakan kognisi umum manusia yang banyak diambil sebagai sumber ketetapan, seperti yang ditetapkannya dalam tradisi tradisi, hikmah hikmah, dan perumpamaan perumpamaan yang kemudian direalisasikan kepada manusia.
Kedua, “apa yang aku ketahui”. Tentang ontologi, Hasan Hanafi menjelaskannya melalui cara asasi, didasarkan pada pemikiran tentang yang diketahui (al ma’lum), yaitu eksistensi eksternal untuk analogi terhadap benda lain. Eksistensi mempunyai makna dan setiap benda mempunyai implikasi tekstual (dalalah). Eksistensi merupakan sesuatu yang baru yang baru atau mungkin yang memiliki kontekstual (maknawy). Premis kedua tentang ontologi ini mengisyarakatkan untuk mengetahui kandungan makna hukumhukum alam agar manusia menjalankan manfaatnya.
Ketiga mengenai masalah “apa yang aku pikirkan”. Dalam kaitan aksiologi (teori nilai), Hasan Hanafi memberikan gambaran tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Oleh karena nilai nilai itu adalah kemanusiaan murni, maka ia mengekspresikan tuntutan manusia sebagai jawaban atas pertanyaan, “apa yang aku pikirkan?” yang dipikirkan adalah kebenaran, karena ia tuntutan kemanusiaan, kebaikan karena ia kecenderungan kemanusiaan dan keindahan karena ia perasaan kemanusiaan. Maka dari itu, objek tauhid menurutnya merupakan objek-objek kemanusiaan yang dipandang sebagai ekspresi dari ketiga nilai tersebut dalam bentuk khusus.
Dengan memperhatikan penjelasan premis ketiga diatas, tampak bahwa bangunan konsep teologi Humanis Hasan Hnanafi berangkat dari dan untuk manusia. Untuk memperkokoh bangungan teologi tersebut ia menggunakan dua pilar utama, masing masing dari kedua pilar tersebut memiliki beberapa aspek. Pilar pertama meliputi keharusan merumuskan ideologi yang memiliki identitas yang jelas ditengah tengah pergumulan ideologi ideologi kontemporer yang berpijak diatas realitas. Kecuali itu, diperlukan analisa psikologi masyarakat sehingga dapat mengenal faktor faktor yang bisa mendorong perilaku manusia. Kedua pandangan ini berujung pada keharusan merumuskan kembali formulasi ushuluddin dan cabangcabang ilmunya.  Selain daripada itu, juga diperlukan formulasi baru tentang ilmu ushuluddin yang tidak memfokuskan persoalanpersoalan teoritis semata, melainkan lebih memfokuskan kepada persoalan praktis, seperti gerakan sejarah setelah proses penyadaran masyarakat.
Pilar kedua sebagai langkah menyempurnakan bangunan teologi, dimana menurut Hasan Hanafi terdiri dari beberapa aspek seperti kebebasan dan toleransi.
Konsep Kebebasan
Kebebasan merupakan salah satu aspek yang penting dalam konsep teologi Antroposentris Hasan Hanafi. Kebebasan disini adalah bebas tidak terikat dengan atribut atribut keimanan. Kebebasan menurutnya, merupakan kebutuhan mendasar manusia, oleh karena itu kegiatan kemanusiaan dapat terbagi dalam dua hal: kebebasan akal dan kerja keras. Semua kegiatan manusia akan berjalan apabila kebebasan telah ditetapkan sebagai ketetapan cara berpikir dan bekerja. Tanpa adanya kebebasan, maka keberhasilan sulit untuk diraih.
Konsep Toleransi
Toleransi atau solidaritas kemanusiaan, bagi Hasan Hanafi merupakan salah satu isu humanisme yang perlu disebarluaskan. Menurutnya, toleransi merupakan petunjuk bagi kegiatan sosial sebagai manifestasi dari kesatuan. Oleh karena  itu, secara epistemologi toleransi bisa dilaksanakan, tidak hanya dalam teori tapi juga dalam praktik, sebagai undang-undang universal tentang etika. Untuk kesatuan, ia menawarkan sikap toleransi dan dialog sebagaimana dipahami umum yang berangkat dari etika universal. Dialog merupakan cara yang dapat menyelesaikan maslah-masalah Mesir sekarang dan masa yang akan datang. Maka, semua unsur gerakan yang ada hendaknya meninggalkan kepentingannya yang terbatas dan mengutamakan kepentingan nasional.
Aplikasi Teologi Antroposentris
Dalam agenda pembaharuan Hasan Hanafi, teologi Antroposentris merupakan roh yang menjiwai. Pembaharuan yang berjiwakan teologi Antroposentris ini diharapkan meraih sukses besar. Adapun program pembaharuan Hasan Hanafi, dapat diklasifikasikan menjadi tiga agenda. Pertama, pembaharuan pemikiran atau usaha untuk merekontruksi tradisi yang sudah usang menjadi suatu konstruk pemikiran Islam yang sangat sesuai dengan perkembangan zaman.Kedua, melawan superioritas peradaban Barat. Menurutnya, peradaban Barat harus dikembalikan pada tingkat kewajaran. Barat yang selama ini dikesankan oleh umum sebagai peradaban yang super berkat keberhasilan studi-studi mereka, kini harus dipelajari menurut versi lain di luar Barat, dengan tujuan untuk membatasi bahwa Barat adalah segala galanya. Ia mengingatkan kaum Muslim akan bahaya imperialisme kultural Barat. Untuk melawan kultur Barat, secara khusus ia menulis oksidentalisme yang dimaksudkan sebagai cara orang timur mempelajari Barat dan upaya melawan serta langkah-langkah mengikis habis peradaban Barat.
Ketiga, menafsirkan kembali serta merekontruksi realitas kebudayaan manusiadalam skala global. Dalam realitas sosial, umat Islam dimungkinkan untuk menafsirkan teks dalam rangka merespon perkembangan zaman. Hasan Hanafi mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks dan mengusulkan metode heremeneutika untuk menerangkan wahyu Tuhan, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri.
2. Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer
Riwayat  Singkat  Asghar  Ali  Engginer
Engineer dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1939 di Rajasthan di daratan India, dalam sebuah keluarga yang berafiliasi kepada paham Syiah Ismailiyah4. Engineer lahir dari keluarga santri, Dia belajar bahasa Arab dari ayahnya, syekh Qurban Husin dan mendapatkan pendidikan sekuler hingga memperoleh gelar sarjana teknik sipil dari Unversitas of Indore. Dalam perjalanan hidupnya Engineer sendiri pernah menjadi pemimpin komunitas Syiah Ismailiyah Bohra yang cukup terkenal di India. Di samping itu, Engineer pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Komunitas Daudi Bohras (1977), pendiri Institut of Islamic Studies di Mumbai (1980), dan ikut mendirikan Center for the Study of Society and Secularism (1993).
Untuk lebih memahami latar belakang keagamaan Engineer, ada baiknya diketahui sepintas tentang kelompok Daudi Bohras ini. Para pengikut Daudi Bohras dipimpin oleh Imam sebagai pengganti Nabi yang dijuluki Amir al-Mukminin. Mereka mengenal 21 orang Imam. Imam mereka yang terakhir adalah Mawlana Abu al-Qasim al-Thayyib yang menghilang pada tahun 526 H. Akan tetapi mereka masih percaya bahwa ia masih hidup hingga sekarang. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Dai (berasal dari ungkapan Daudi) yang selalu berhubungan dengan Imam terakhir itu. Untuk diakui sebagai Dai tidaklah mudah. Ia harus mempunyai 94 kualifikasi yang disimpulkan menjadi 4 kualifikasi, yaitu, pendidikan, administrasi, moral dan teoritikal, keluarga dan kepribadian. Yang menarik bahwa di antara kualifikasi itu seorang Dai harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Untuk itu Engineer diakui sebagai seorang Dai.
Engineer yang diakui sebagai Dai, juga sebagai seorang ilmuan terkenal yang menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Urdu, Arda, Persia, Gujarat, Hindu dan Marathi. Dan dia banyak memberikan kuliah di berbagai universitas terkenal, seperti di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Srilangka, Pakistan, Yaman, Mesir dan Hongkong.7 Pada bulan Agustus tahun 2008, Engineer pernah berkunjung ke Indonesia, dan menyampaikan ceramah tentang Islam dan Negara Bangsa, serta bertemu dengan sejumlah cendekiawan Islam Indonesia, antara lain mantan presiden Abdurrahman Wahid.
Djohan Effendi tampak sangat tertarik terhadap pemikiran Engineer, menurut Djohan, Engineer adalah seorang mukmin sejati bukanlah sekedar orang yang percaya kepada Allah akan tetapi juga ia seorang mujahid yang berjuang menegakkan keadilan, melawan kezaliman dan penindasan.
Sebagai seorang pemikir, Engineer telah menerbitkan puluhan buku dengan berbagai tema. Di antara karya-karya tersebut antara lain: Islam and Its Relevance to Our Age, The Oringin and Development of Islam, Islam and Muslims: Critical Perspectives, The Bohras, The Islamic State, Islam and Liberation Theology, On Developing Liberation Theology in Islam, Islam in South-East Asia, Seminar on Sufism and Communal Harmony, The Spirituality of Social Movement, Rights of Women in Islam, Communalism and Communal Violence in India, Ethnic Problem in South Asia, The Quran, dan Women and Modern Society. Selain itu Engineer juga menulis beberapa artikel beberapa surat kabar terkemuka di India, seperti Times of India, Indian Express, The Hindu Daily, Telegraph, dan Indian Jurnal of Secularism.
Di luar aktivitas intelektual, Engineer adalah seorang aktivis sosial, di antara jabatan penting yang dipercayakan kepadanya, antara lain: Wakil Presiden pada Peoples Union for Civil Liberties, Pemimpin Rikas Adhyayan Kendra (Centre for Development Studies), Pemimpin EKTA, (Committee for Communal Harmony), Ketua pendiri pada Centre for Study of Society and Secularism, Mantan Dewan Eksekutif Universitas of Jawaharlal New Selhi, dan Sekretaris Umum pada Central Board of Dewood di Bohra Community and Cenvenor Asian Muslim Action Network (AMAN).11 Dan tercatat pula Engineer pernah memberikan kuliah di Universitas berbagai Negara seperti Amerika, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, Pakistan, Yaman, Hongkong, dan Mesir.
Karena pemikiran dan aktivitas sosialnya Engineer memperoleh beberapa penghargaan, antara lain: Gelar kehormatan D.Lit. dari Universitas Calcuta, National Communal Harmony Award dari National Foundation for Communal Harmony, Harmony Award dari New Leaders Commitee, Chennai, dan Hakim Khan Sur Award dari Maharana Mewar Foundation, Udaipur, Rajasthan.
Adapun metode pemikiran Engineer bersifat normatif kontekstual dan transendental. Bersifat normatif, karena dia selalu mendasarkan pada ayat-ayat al-Quran sebagai sumber rujukan terhadap kasus-kasus sosial politik maupun teologi. Sedangkan kontekstual dimaksudkan untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama yang bersifat normatif yang belum mengenal waktu dan tempat ke dalam sosio kultural yang ada, yaitu dengan cara membaca kondisi sosio masyarakat yang berlaku. Adapun yang bersifat transendental, karena ayat-ayat tersebut memerlukan pengetahuan yang cukup mendalam dan memahami antara teks dengan konteksnya.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.

b. Pemikiran Engginer tentang teologi kebebasan
Dalam sebuah artikel yang berjudul What I Belive (Mumbay: 1999), Engineer mengemukakan tiga pokok persoalan yang mendasari pemikiranpemikirannya. Pertama, mengenai hubungan antara akal dan wahyu yang saling menunjang. Kedua, mengenai pluralitas dan diversitas agama sebagai keniscayaan. Ketiga, mengenai watak keberagamaan yang tercermin dalam sensitivitas dan simpati terhadap penderitaan kelompok masyarakat lemah.
Pokok-pokok pemikiran di atas inilah yang melandasi Engineer dalam mengkonstruksi teologi pembebasan dalam Islam sebagaimana yang ia tunjukkan dalam bukunya Islam and Liberation Theology (1990). Menurut Engineer, teologi klasik cenderung kepada masalah-masalah yang abstrak dan elitis, berbeda dengan teologi pembebasan lebih cenderung kepada hal-hal yang konkret dan historis, dimana tekanannya ditujukkan kepada realitas kekinian, bukan realitas di alam maya. Bagi Engineer, teologi itu tidak hanya bersifat transendental, tetapi juga kontekstual. Teologi yang hanya berkutat pada wilayah metafisik akan tercerabut dari akar sosialnya. Baginya, teologi adalah refleksi dari kondisi sosial yang ada, dan dengan demikian suatu teologi adalah dikonstruksi secara sosial. Lebih lanjut
menurut Engineer tidak ada teologi yang bersifat eternal yang selalu cocok dalam setiap kurun waktu dan sejarah.
Menurut Engineer, pandangan teologi itu juga tidak netral. Ia mempunyai keberpihakan, apakah kepada status quo atau kepada perubahan. Dengan kata lain, teologi itu dapat menjadi instrument pembebas atau pembelenggu manusia. Semua itu tergantung kepada siapa yang mengkonstruksi dan menggunakannya. Keberpihakan teologi pembebasan sangat jelas, yaitu kepada mereka yang lemah dan tertindas. Ia diproyeksikan untuk perubahan, bukan untuk mengabdi kepada
kekuasaan dan status quo.
Jadi teologi pembebasan yang dipelopori Engineer ini merupakan usulan kreatif yang mengaitkan antara pentingnya paradigma baru dalam teologi yang memerangi penindasan dalam struktur sosio-ekonomi. Paradigma ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena arogansi kekuasaan, ketidak adilan, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi kulit, bangsa atau jenis kelamin, penumpukan kekayaan dan pemusatan kekuasaan dalam realitas masyarakat kontemporer.
Lebih lanjut menurut Engineer, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sebagai pendorong revolusi sosial yang memerangi struktur yang menindas. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality) dan keadilan sosial (social justice).22 Oleh sebab itu teologi pembebasan dilatarbelakangi oleh masalah sosio-ekonomi, dan juga membicarakan masalah psiko-sosial. Struktur sosial saat ini sangat menindas dan harus diubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, optimis, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan keyakinan yang kuat. Sebab secara psikologis, masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang menindas akan cenderung frustrasi, pesimis, suka jalan pintas, dan lemah keyakinan. Kondisi psikis semacam ini harus diatasi dengan munculnya keyakinan teologis yang kuat agar mendorong mereka untuk giat mengubah nasibnya sendiri tanpa rasa frustrasi, dan menjadikan sumber motivasi kaum tertindas untuk mengubah keadaan mereka dan menjadikan kekuatan spiritual untuk mengomunikasikan dirinya secara berarti dengan memahami aspek-aspek spiritual yang lebih tinggi.
Untuk itulah, teologi pembebasan sangat menekankan pada aspek praksis, yaitu kombinasi antara refleksi dan aksi, iman dan amal. Ia merupakan produk pemikiran yang diikuti dengan praksis untuk pembebasan. Jadi teologi pembebasan berupaya untuk menjadikan mereka yang lemah dan tertindas menjadi makhluk yang independen dan aktif. Karena hanya dengan menjadikan manusia yang aktif dan merdeka mereka dapat melepaskan diri dari belenggu penindasan.
Sumber inspirasi teologi pembebasan menurut Enginer adalah al- Quran dan sejarah para rasul dan nabi Allah. Keberpihakan kedua sumber ini kepada kaum lemah tidak diragukan lagi. Al-Quran dengan jelas mengajarkan untuk menyatuni anak-anak yatim, orang-orang lemah, menegakkan keadilan, dan menekankan agar kapital itu tidak hanya berputar- putar disegelitir orang. Penekanan demikian persis yang dipraktekkan oleh para rasul dan nabi Allah.
Dalam pandangan Engineer, para sejarawan membuktikan bahwa nabi Muhammad sebagai utusan Allah menggulirkan tantangan yang membahayakan saudagar-saudagar kaya suku Quraisy, yang berasal dari suku yang berkuasa di Mekah. Penolakan masyarakat Quraisy terhadap dakwah nabi Muhammad, menurut Engineer lebih dikarenakan faktor ekonomi daripada faktor agama. Masyarakat Quraisy yang menentang takut jika hegemoni ekonomi yang ada di genggaman mereka terganggu. Mereka menyombongkan diri dan mabuk dengan kekuasaan, melanggar normanorma kesukuan, dan tidak menghargai fakir miskin.27 Mengikuti pemikir Mesir Taha Husein, Engineer mengatakan bahwa jika nabi Muhammad hanya mendakwahkan Islam tentang keesaan Tuhan, tanpa menyerang sistem sosial-ekonomi, mengabaikan perbedaan antara yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, tuan dan budak serta tidak mendesak para konglomerat Mekah untuk mendistribusikan sebagian kekayaan mereka kepada kaum lemah dan fakir miskin, maka mayoritas masyarakat Quraisy akan menerima kehadiran Islam yang di dakwahkan oleh nabi Muhammad saw. pada saat itu.
Dalam semangat teologi pembebasan ini, Engineer mentransformasikan tiga konsep kerangka praksis teologi pembebasan, yaitu: Pertama, konsep tauhid. Bagi Engineer, tauhid tidak hanya mengacu pada keesaan Allah, namun juga pada kesatuan manusia (unity af mankind). Kesatuan bukan saja mengenai perkara akidah, tetapi adalah kesatuan dalam keadilan yang melintasi batas-batas keyakinan. Untuk itulah, dalam masyarakat tauhidi, tidak akan membenarkan dikriminasi, baik dalam bentuk ras, agama, kasta ataupun kelas sosial, sebab pembagian kelas, secara tidak langsung, menegaskan dominasi yang kuat atas yang lemah, kelas yang satu menindas yang lain, ketidakadilan, tirani, dan penindasan. Dominasi inilah yang menghalangi upaya pembentukan masyarakat yang adil. Lebih lanjut menurut Engineer, persoalan penindasan itu bukanlah persoalan antar pemeluk agama, akan tetapi lebih merupakan persoalan persoalan antara penindas dengan yang tertindas. Sosok penindas dan yang ditindas itu bisa berasal dari agama manapun, ras apapun dan suku manapun. Dengan demikian, tauhid itu tidak hanya berdimensi sosialekonomi. Kafir tidak hanya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga termasuk mereka yang melawan segala usaha yang sungguh-sungguh untuk menata ulang struktur masyarakat agar lebih adil dan egaliter, tidak ada konsentrasi kekayaan di segelintir orang, serta tidak ada eksploitasi manusia atas manusia yang lain.30 Konsep tauhid inilah menurut Engineer yang sangat dekat dengan semangat al-Quran untuk menciptakan keadilan dan kebajikan (al-adl wa al-ihsân).
Kedua, konsep iman. Menurut Engineer kata iman berasal dari kata amn yang berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Untuk itu, iman tidak hanya soal kepercayaan kepada Allah, tetapi orang yang beriman harus dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan menyakini nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Iman kepada Allah akan mengantarkan manusia pada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Jadi iman tidak hanya berkutat pada wilayah keyakinan an sich, tetapi juga mengandung dimensi sosiologis dan ekonomis. Lebih lanjut menurut Engineer, orang kafir (kufr), adalah orang yang tidak hanya menampik eksistensi Allah, tetapi juga yang menantang usaha-usaha jujur untuk membentuk masyarakat, menghapus akumulasi dalam segala bentuknya. Seseorang yang secara formal beriman kepada Allah, tetapi memperturutkan hawa nafsu dengan menimbun kekayaan dengan menindas orang lain, dan gemar melakukan konsumtif yang menyolok mata, sementara yang lain menderita kelaparan, juga termasuk kafir (kufr). tegas Engineer.
Ketiga, konsep jihad. Jihad makna literernya perjuangan. Teologi pembebasan memaknai jihad sebagai perjuangan menghapus eksploitasi, korupsi, dan berbagai bentuk kezaliman. Perjuangan yang harus dilakukan secara dinamis dan istiqamah, agar kelaliman yang dilakukan manusia sirna dari muka bumi. Untuk itu teologi pembebasan tidak memaknai jihad sebagai perang militer, tetapi aktivitas dinamis progresif untuk melakukan pembebasan masyarakat dari realitas penindasan yang menimpa mereka. Jihad untuk pembebasan, bukan jihad untuk berperang (aggression). Dengan demikian, menurut Engineer struktur sosial yang sangat menindas harus dirubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguhsungguh, yang sering kali meminta pengorbanan. Perjuangan tidak mudah, karena membutuhkan keyakinan, optimisme dan kesabaran yang luar biasa. Sebab keyakinan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. Jadi kesabaran dimaksud adalah kesabaran yang ditujukkan selama mengadakan perjuangan untuk menciptakan perubahan sosial, merupakan sebuah senjata psikologis yang sangat kuat dalam menghadapi segala kesulitan.
E.  Teologi Alam atau Ekologi
Ekologi dalam bahasa Inggris ditulis “ecology” diambil dari bahasa Yunani dari kata “oikos” dan “logos”. Oikos berarti tempat tinggal dan logos berarti ilmu. Ekologi merupakan cabang dari biologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme dan hubungan antara organisme-organisme itu dengan lingkungannya.
Dalam pengertian yang lebih luas, oikos tidak dipahami hanya sekedar tempat tinggal manusia. Oikos juga dipahami sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya diantara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. Dengan demikian, oikos bermakna rumah bagi semua maakhluk hidup yang sekaligus menggambarkan interaksi keadaan seluruhnya yang berlangsung di dalamnya.
Dalam bahasa Arab, ekologi dikenal dengan istilah ‘ilm al-bī ‘ ah. Secara etimologi, kata bī ‘ ah diambil dari kata kerja (fi’il) bawa’a yang terdiri dari huruf bā-wau-hamzah yang memiliki arti tinggal, berhenti, dan menetap. Bentuk isim (masdar) dari kata bawa’a ini adalah al-bī ‘ ah yang berarti rumah atau tempat tinggal.
Dari uraian di atas, definisi ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.
Teologi dalam khazanah Islam, dipadankan dengan “ilmu kalam”. Penggunaan istilah ini setidaknya didasarkan pada asumsi bahwa keduanya mengarahkan pembahasannya pada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Sebutan lain untuk ilmu kalam adalah ilmu ‘Aqā ‘ id (ilmu aqidah-aqidah, yakni simpul-simpul kepercayaan), ilmu Tauhid (ilmu tentang kemaha Esaan Allah), dan ilmu Usuluddin (ilmu pokok-pokok agama).
Dengan memaknai teologi sebagai the intellectual expresion of religion, maka teologi menjadi lebih luas pengertiannya dan relevan untuk merespon berbagai tantangan kontemporer yang senaantiasa hadir setiap waktu. Pembahasan mengenai persoalan kemanusiaan dan alam yang ditinjau dari perspektif teologis menjadi sebuah kebutuhan sekaligis keniscayaan untuk masa kini.
Dalam pengertiaan teologi tersebut di atas, muncul kajian baru dalam studi agama (Islam) yang berhubungan dengan ekologi, yang disebut teologi lingkungan Islam atau eko-teologi. Eko-teologi merupakan teologi kreatif dan produktif dari dinamika teologi dalam studi Islam.
Dalam ajaran Islam, eko-teologi dapat dipahami sebagai konsep keyakinan agama yang berkaitan dengan persoalan lingkungan yang didasarkan pada ajaran agama Islam. Rumusan teologi dapat digunakan sebagai panduan teologis berwawasan lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
Melalui eko-teologi, dapat dipahami hubungan harmonis antara Tuhan alam dan manusia. Lebih jauh dapat dijelaskan, hubungan antara Tuhan, alam dan manusia mengacu pada hubungan sistemik, yaitu Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam raya, Tuhan sebagai pemilik manusia serta alam raya sekaligus secara fungsional Tuhan sebagai pemelihara manusia dan alam raya.
Ada seorang tokoh bernama Bardiuzzaman Said Nursi dia adalah seorang ulama dan pejuang yang lahir di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Beliau lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang taat terhadap ajaran agama. Beliau adalah salah satu tokoh yang menjelaskan hubungan ontologis antara Tuhan dengan alam, beliau menguraikan hakikat alam sebagai berikut:
Pertama; alam semesta merupakan buku. Membaca dan memahami buku alam sama seperti dia membaca Al-Qur’an yang merupakan kitab yang diwahyukan oleh Allah. Bagi Nursi, alam semesta merupakan sebuah buku besar sedangkan Al-Qur’an adalah tafsir atau penjelasnya.
Kedua;karena alam merupakan buku yang diciptakan oleh Allah, ia bukanlah buku biasa. Alam semesta adalah maha karya seni yang sangat indah, agung dan hebat. Dengan demikian, buku ini sangat penuh dengan makna. Nursi merumuskan dalam bahasa yang singkat “Alam adalah sebuah maha karya seni yang sangat indah. Karena alam itu sebuah maha karya, ia tak bisa menjadi pencipta maha karya seni.”
Ketiga; alam semesta adalah cermin yang merefleksikan keindahan nama-nama Tuhan. Dalam bahasa yang lugas, Nursi menulis: “Alam semesta adalah cermin. Begitu juga halnya hakikat setiap makhluk, merupakan cermin.” Dengan demikian, alam yang merefleksikan keindahan nama Tuhan pada dasarnya memiliki makna dan dimensi sakral pada dirinya sendiri.
Keempat; seluruh makhluk hidup tidak bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan kehendaknya, melainkan ia telah berada dalam tatanan serta keteraturan yang salin terkait satu sama lainnya sebagaimana yang telah ditetatapkan Tuhan. Alam semesta mengetahui keberadaan Tuhan dengan baik melalui aspek ini.
Kelima; hubungan antara alam eksternal (zahir) dengan alam yang tersembunyi (batin) pada dasarnya sangat nyata. Namun hal itu tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Hanya mata kekasih Tuhan yang mampu melihatnya.
Uraian tersebut di atas menjelaskan bahwa alam semesta memiliki kesucian serta dimensi sakrral. Oleh karena itu, siapapun sangat dilarang merusak alam. Pemahaman oleh Nursi, menurut Davud Ayduz, merupakan landasan metafisik dari Islamic Environmentalisme, dimana seorang muslim akan selalu bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Siapapun yang melawan pandangan tersebut, sesungguhnya ia telah menentang Tuhan.
Persoalan penting lainnya dalam gagasan ekoteologi Nursi adalah pandangannya tentang manusia. Refleksi mengenai hakikat manusia dalam konteks ekologis sangat penting diuraikan mengingat konsepsi manusia sering kali disalahartikan. Manusia selama ini dipahami sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan alam semesta. Karena khalifah lebih tinggi sedangkan alam semesta lebih rendah, maka manusia seolah-olah memiliki legitimasi teologi untuk mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan manusia tanpa batas.  Nursi menjelaskan hakikat manusia sebagai manifestasi (tajalli) atau cermin dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sekalogus khalifah-Nya di muka bumi. Selanjutnya, manifestasi nama-nama Allah dalam diri manusia dapat dilihat dalam tiga hal penting sebagai berikut:
Pertama, sebagaimana kegelapan malam menunjukkan adanya cahaya, semua manusia melalui kelemahan, ketidakberdayaan, kefakiran, kemiskinan, kekurangan, dan segala cacatnya menunjukkan adanya kekuatan, keperkasaan, kekayaan, kemuliaan, kecukupan serta kesempurnaan Allah. Melalui lisan Allah dengan panggilan al-Qadir wa al-Qahhar. Lewat bahasa kefakiran dan kemiskinan, secara alami kita selalu memanggil Allah dengan panggilan al-Razzaq wa al-Ghaniyy. Dan begitulah seterusnya, dengan segala sifat-sifat kekurangannya, manusia selalu bergantung kepada Allah yang maha sempurna.
Kedua, manusia memiliko potensi-potensi seperti kekuatan, kemampuan, kekuasaan, pemilikan, pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan juga pemikiran. Semua itu pada hakikatnya bersumber dari Allah yang maha kuat, maha kuasa, maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui, dan maha memiliki segala-galanya. Semua potensi manusia merupakan manifestasi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Ketiga, potensi manusia bukan hanya bersifat teoritis, melainkan juga berada dalam tataran praktis, bukan cuma dalam tataran subjektif tetapi juga objektif, tidak saja secara normatif bahkan pula secara empirik. Dalam bahasa tasawuf, hal ini dinamakan tahaqquq, yakni merealisasikan siffat-sifat mulia sang Pencipta pada tataran faktual-empiris. Di sini seorang manusia benar-benar mencintai Allah dan Dia pun mencintainya, sehingga dia akan memberikan secercah kehebatannya terhadap manusia tersebut.
Melalui uraian di atas, Nursi ingin menjelaskan bahwa posisi khalifah yang diberikan kepada manusia merupakan kepercayaan dan kehormatan yang telah diberikan Allah. Namun, sebagian manusia menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan cara merusak tatanan alam dan keseimbangan ekologis yang telah diciptakan Allah. Tak sedikit, kerusakan di daratan dan di lautan begitu mudah ditemukan.
Dengan demikian, kekhalifahan bukanlah legitimasi teologis untuk mengeruk dan mengeksploitasi alam sebanyak-banyaknya, melainkan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan hal itu, Nursi sebagaimana dikutip Abdul Azis Barghuth menyatakan bahwa kekhalifahan memiliki empat prinsip utama, yaitu; pertama, prinsip keesaan Tuhan; kedua, prinsip kosmik yang menuntut manusia sebagai khalifah untuk senantiasa merenungkan posisinya di alam semesta dan bertindak sesuai dengan porsi dan posisinya; ketiga, prinsip peradaban dimana manusia dituntut untuk senantiasa membangun keseimbangan antara kekuatan personal sekaligus sosial dan kultural, kekuatan material sekaligus spiritual, kekuatan ilmiah sekaligus kultural, serta kesehatan jasmani sekaligus rohani; keempat, prinsip eskatologis yang menjelaskan tindakan manusia sebagai khalifah yang dilakukan selama hidupnya akan mendapatkan balasan di akhirat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.
ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.

DAFTAR PUSTAKA
Arroisi, Jarman. 2014. “Catatan atas Teologi Humanis Hasan Hanafi”. Jurnal Kalimah, Vol. 12 No. 2 : 173-193.
Jurnal Ilmu Ushuluddin, Teologi Pembebasan Dalam Islam : Telaah Pemikiran Asghar Ali Engineer. Vol.10, No.1, Januari 2011. ( Halaman 51-65 )
Ridwanuddin, Parid. 2017. “Ekologi dalam pemikiran Badiuzamman  Said Nursi”. Vol. 1 : 44-58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH RENAISANS EROPA

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang pend...